PRESENTASI - Koordinator Pelaksana Program Kampus Desa IPB, Ir. Yanefri Bakhtiar, saat mempresentasikan Program Kampus Desa IPB.

BOGOR ( Bisnis Jakarta) – Program Kampus Desa Institut Pertanian Bogor (IPB), berhasil mencuri perhatian dunia Internasional, khususnya bagi para peserta Konferensi Internasional GFRAS APEN 2017, yang digelar di Kota Townsville, Australia, pada 12-15 September lalu.

Koordinator Pelaksana Program Kampus Desa IPB,  Ir. Yanefri Bakhtiar, mengatakan bahwa konferensi Internasional GFRAS APEN di Australia tahun ini menghadirkan lebih dari 300 peserta dari berbagai negara anggota Global Forum.   “Saya bersama utusan IPB lainnya yakni Pak Dr. Amiruddin Shaleh (Kepala P2SDM-LPPM IPB), Ketua Departemen SKPM Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB, Ibu Dr. Siti Amanah, berhasil mempresentasikan program tersebut kepada para peserta konferensi. Hasilnya memang cukup positif, karena banyak peserta yang mengaku penasaran dan ingin lebih tahu lebih secara detail terkait pergram IPB ini,” kata Ir. Yannefri Bakhtiar, di kampus Dramaga, Rabu (04/10).

Duta IPB itu menjelaskan, Program Kampus Desa merupakan program transfer ilmu dan teknologi, diseminasi inovasi IPB ke masyarakat dengan tujuan membantu mensolusi permasalahan pertanian secara umum. Program Kampus Desa dibangun dengan semangat keswadayaan dan sharing potensi antar beberapa komponen utama (IPB/Perguruan Tinggi, Masyarakat, Pemerintah Daerah, dan pihak swasta).

“Kami di IPB tentu akan berkontribusi dalam penyediaan inovasi dan SDM penyampai inovasi. Masyarakat berkontribusi dalam penyediaan tempat serta kesediaan waktu untuk menghadiri pertemuan serta upaya penerapan inovasi yang sesuai, sedangkan pihak Pemda dan pengusaha dapat berkontribusi mendukung sesuai program lembaga mereka yang relevan termasuk mendukung implementasi muatan inovasi IPB di tingkat masyarakat/keluarga,” jelasnya.

Program Kampus Desa lahir  dari adanya kelompok masyarakat binaan P2SDM LPPM IPB yang telah dirintis sejak tahun 2007 melalui pengembangan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang memiliki kelompok aktif 80-150 kelompok di desa dan kelurahan yang berada di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor, Sukabumi, serta Cianjur.

“Melalui program ini ternyata sekarang selain telah menjadi wilayah riset untuk dosen, peneliti, dan mahasiswa, kelompok-kelompok ini menjadi sangat strategis untuk media transfer ilmu dan teknologi antara Perguruan Tinggi dan masyarakat,” ujarnya. (bas)