JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) menilai penurunan suku bunga kredit akan menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik ke depan.

Direktur LPPI Krisna Wijaya di Jakarta, Kamis, mengatakan, inflasi yang diproyeksikan tetap rendah pada kisaran 3-4 persen pada 2017 dan 2018 akan membuat suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap berada di level terendah.

Namun lanjut Krisna, pihaknya melihat penurunan reverse-repo akan semakin sulit dilakukan oleh bank sentral di masa yang akan datang.

“Berkaitan dengan itu, peluang untuk mendorong pertumbuhan di masa akan datang hanya bisa dicapai dengan penurunan dari suku bunga pinjaman (lending rate),” ujar Krisna saat diskusi Economic and Banking Outlook.

Sebagaimana diketahui, marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan Indonesia saat ini berkisar 5,3 persen, lebih tinggi dibandingkan NIM perbankan di negara-negara di Asia Tenggara yang berkisar 1-2 persen. Hal tersebut mengindikasikan masih tingginya tingkat bunga pinjaman di ranah domestik.

Bank Indonesia dalam dua bulan terakhir telah menurunkan tingkat suku bunga acuan dari sebelumnya 4,75 persen menjadi 4,25 persen. Penurunan suku bunga tersebut diharapkan akan diikuti oleh perbankan dengan menurunkan suku bunga pinjamannya sehingga ekonomi dapat terdorong.

Kendati demikian, LPPI melihat bahwa kondisi perbankan sendiri saat ini sudah membaik. Hal itu didasari oleh beberapa indikator kinerja saat ini. Berdasarkan data Juli 2017, CAR perbankan 23 persen, ROA 2,5 persen, LDR pada fase normal 89.2 persen dan BOPO turun menjadi 79 persen.

Selain itu, rasio kredit bermasalah (NPL) sudah mulai menurun dan menjauh dari titik tertinggi sebelumnya 3,2 persen dan menjadi 3 persen pada Juli 2017. Sementara pada periode yang sama di tahun sebelumnya, CAR 23 persen, ROA 2,3 persen, BOPO 81 persen, dan NPL 3,2.

Walau secara industri membaik, namun secara individual bank, penelitian LPPI menunjukan bahwa terdapat 25 bank tidak efisien, karena BOPO nya di atas 95 persen. Selain itu, ada 24 bank yang rentabilitasnya rendah karena rasio ROA dan ROE-nya di bawah 1 persen.

Selanjutnya, nyaris separuh bank konvensional masih beroperasi dengan CAR di bawah rerata industri dan masih beroperasi dengan NPL di atas 2 persen. “Secara khusus kami melihat bahwa Bank Pembangunan Daerah (BPD) umumnya tidak dalam kategori bermasalah pada isu ROA-ROE-BOPO. Namun cukup banyak BPD yang terbentur pada isu NPL dan CAR,” ujar Krisna.

Kedua isu CAR dan NPL tersebut, terkait dengan belum sempurnanya proses kredit (termasuk isu Governance-Risk Management-Compliance) serta isu peningkatan kemampuan dalam analisa kredit dan penyempurnaan tools yang dipakai dalam analisis pemberian kredit. (grd/ant)