JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Indonesia Olympians Association (IOA) berharap kepada pemerintah dalam hal ini Kemenpora menunda pembubaran Satlak Prima hingga pelaksanaan Asian Games 2018 berakhir mengingat bakal berdampak besar pada persiapan atlet.

Ketua Umum IOA Richard Sam Bera di Jakarta, Selasa, mengatakan yang terpenting saat ini adalah bagaimana memangkas proses birokrasi terutama dalam hal pencairan dana yang selama ini menjadi kendala utama saat atlet menjalani pemusatan latihan.

“Dana atlet Prima berasal dari APBN dan sering terlambat pencairannya. Oleh karena itu yang terpenting saat ini adalah solusi pemangkasan birokrasi penyaluran dana untuk atlet, bukan pembubaran lembaga Prima yang mengurus persiapan atlet menuju multi event,” katanya.

Menurut dia, membubarkan Satlak Prima saat ini dinilai kurang tepat karena pelaksanaan Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang tinggal 10 bulan lagi. Jika dibubarkan maka akan memunculkan masalah baru mengingat dana untuk Satlak Prima juga sudah diputuskan oleh DPR RI.

Untuk itu, kata dia, pemerintah diharapkan lebih fokus dalam memantau persiapan atlet yang diharapkan mampu menyumbangkan medali pada kejuaraan empat tahunan itu daripada mencari lembaga mana yang harus dibubarkan pasca kegagalan di SEA Games 2017.

“Selama ini pola kerja pemerintah yang berbirokrasi panjang adalah kontrak produktif terhadap persiapan atlet Indonesia. Untuk itu fokus harus disini dulu. Jika Satlak Prima perlu dibubarkan, nanti setelah Asian Games. Kalau saat ini kami kira kurang tepat,” kata mantan atlet renang Indonesia itu.

Apa yang disampaikan oleh Richard Sam Bera didukung oleh olimpian lainnya yaitu Lukman Niode. Menurut dia, yang lebih penting saat ini adalah atlet akan menjalani pemusatan latihan dimana mengingat calon lawan juga sudah mempersiapkan diri dengan baik.

“Atlet adalah ujung tombak meraih medali. Makanya saat ini fokusnya ke try out. Misal Triyaningsih dan Agus Prayogo dikirim ke Kenya, balap sepeda ke Australia dan Belanda atau menembak ke Jerman. Itu yang lebih penting,” katanya Lukman Niode.

Pria yang juga Wakil Ketua Satlak Prima ini menambahkan jika dana untuk Satlak Prima sudah diketok oleh DPR RI. Jika lembaga ini dibubarkan maka akan ada lagi pembahasan dan dipastikan akan membutuhkan waktu lama, sedangkan kebutuhan atlet sangat mendesak.

IOA yang dihuni oleh atlet Indonesia yang pernah membela negara di Olimpiade ini berharap bisa dilibatkan secara langsung minimal sebagai inspirator bagi atlet Indonesia yang bakal turun di multi event yang diantaranya pada Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.

“Menjadi olimpian sudah pasti banyak prestasi yang didapat. Untuk itu kami berharap bisa dilibatkan secara langsung minimal menjadi inspirasi bagi atlet. Menjaga psikologi atlet tidak mudah. Olimpian akan mudah masuk dibandingkan psikolog karena sudah memahai kondisi,” kata olimpian lainnya, Krisna Bayu.

Rencana pembubaran Satlak Prima saat ini memang mencuat usai kegagalan kontingen Indonesia di SEA Games 2017 lalu. Namun, rencana tersebut masih menjadi polemik sehingga solusi yang tepat harus segera didapatkan mengingat Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018. (grd/ant)