JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Sahabat Bromo dan Masyarakat Fotografi Indonesia mengecam tindakan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, yang telah membangun tugu besar di Laut Pasir Bromo dan di padang Savannah Bromo. “Tugu nama semacam ini tidak banyak manfaatnya, dan secara estetika kehadiran tugu- tugu itu sungguh aneh dan jelek di tengah alam Bromo yang begitu indah dan megah,” kata Ketua Dewan Pembina Masyarakat Fotografi Indonesia (MFI) Sigit Pramono di Jakarta, Jumat (13/10).

Kecaman dan protes disampaikan melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Menteri Pariwisata. Protes ini dilatarbelakangi bahwa Bromo adalah salah satu dari 10 destinasi prioritas tujuan pariwisata yang telah ditetapkan Pemerintah, dan sudah sepatutnya pihak pengelola Bromo saat ini yaitu Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mampu mengelolanya dengan standar pengelolaan taman nasional yang benar, berstandar internasional.

Sigit mengatakan, alih-alih meningkatkan pelayanan kepada wisatawan yang akhir-akhir ini telah membayar tiket masuk dengan tarif yang dinaikkan berlipat, mereka malah membangun tugu nama (signage) di tengah-tengah obyek wisata. “Tugu nama semacam ini tidak banyak manfaatnya, dan secara estetika kehadiran tugu- tugu itu sungguh aneh dan jelek di tengah alam Bromo yang begitu indah dan megah,” tegasnya.

Bagi kalangan masyarakat fotografer, Sigit menilai, kehadiran tugu itu sungguh patut disayangkan, karena hanya merusak estetika alam Bromo.
Satu hal yang sudah pasti, pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru hanya menghambur-hamburkan uang saja. Padahal uang sebesar itu bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, misal menambah jumlah toilet di kawasan Bromo.

Untuk diketahui bahwa di kawasan laut pasir Bromo hanya ada satu toilet yang dibangun oleh BNI, dan dewasa ini untuk toilet wanita sangat kurang sehingga pengunjung wanita harus antri sangat panjang jika ingin menggunakannya.

Pembangungan tugu nama (signage) di tempat wisata buatan manusia (man made) seperti Ancol, Taman Safari dll, barangkali masih dapat dipahami, dan tidak keberatan bila pengelolanya membangun tugu nama di lokasi semacam itu. Adapun Bromo adalah tempat wisata yang merupakan anugerah Tuhan yang indah sehingga sama sekali tidak perlu dibangun tugu nama di sana.

MFI memohon agar Pemerintah segera memerintahkan Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru membongkar tugu nama yang telah mereka bangun di kawasan Bromo tersebut.
“Apabila ‘nafsu’ membangun tugu nama di kawasan taman nasional atau tempat wisata benar-benar tidak terbendung, kami sarankan agar dibangun di pintu gerbang masuk kawasan saja,” tegasnya seraya menegaskan, jangan di tengah-tengah obyek wisata yang justru keindahannya yang kita “jual”. (son)