AMLAPURA (Bisnis Jakarta) – Itulah yang diungkapkan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Kasbani mengenai status salah satu gunung yang ada di Bali. Padahal, status awas telah diberlakukan sejak 22 September lalu. Hingga kini, Gunung Agung yang memiliki nama lain, Giri Tolangkir masih menyimpan misteri.

Orang tak akan berbicara sembarangan bahkan tak seorang pun yang berani menduga-duga apakah nantinya gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu akan meletus atau sebaliknya kembali tenang dalam tidur panjang setelah letusan lebih dari setengah abad silam.

Ratusan ribu warga yang bermukim di sekitar dan saat ini terpaksa mengungsi ke seluruh wilayah di Pulau Dewata hingga ada yang menyeberang ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pun dibuat galau dan gundah. Ketidakpastian statusnya itu membuat sebagian warga nekad pulang, sehingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiarkan kabar sekitar 2.000 orang pengungsi memaksa kembali tinggal dan beraktivitas di zona merah.

Pada umumnya, umat Hindu di Bali dan Nusantara percaya gunung merupakan tempat yang paling suci dan disimbolkan sebagai sthana (tempat tinggal) para dewata. Dalam kepercayaan Hindu, para dewa adalah manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang bertugas sebagai administrator di dunia material (alam semesta).

Gunung Agung merupakan gunung yang sangat unik dan memiliki karakter yang berbeda jika dibandingkan dengan sebagian besar gunung api yang ada di Tanah Air, kata Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana.

Aktivitas kegempaan bahkan selalu berfluktuasi. Rata-rata 600 kali sampai 900 kali gempa per hari. Angka tersebut tergolong tinggi dan jauh di atas gunung api di Indonesia yang hanya di kisaran 200-300 kali sebelum akan mengalami erupsi (letusan).

Devy mencontohkan Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang meletus (erupsi) setelah mengalami gempa vulkanik sekitar 200 kali atau sesaat setelah level Awas. Pada Jumat (13/10), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kembali mendeteksi aktivitas penggembungan (deformasi) Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, yang masih berstatus Awas itu.

Masih ada tren deformasi sesuai hasil pengamatan pada dua hari terakhir. Selain memang aktivitasnya masih dalam level tinggi, kata Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung Desa Rendang. Penggembungan disebabkan masih tingginya aktivitas Gunung Agung. Asap yang ke luar dari kawah menunjukkan aktivitas magma yang terus mendesak ke permukaan.

“Kita dapat amati bersama secara visual masih ada hembusan asap kawah hingga 50-100 meter, selain memang dari data bahwa aktivitas deformasi tetap ada,” katanya.

Rekahan di daerah kawah, kata Kasbani, belum mengalami perubahan signifikan yakni masih berkisar sekitar 80-100 meter sesuai hasil citra satelit hingga (12/10). Aktivitas kegempaan yakni vulkanik dan tektonik masih tergolong tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Gempanya masih sangat fluktuatif dalam level tinggi. “Itu memberi informasi bahwa aktivitas gunung belum akan turun,” katanya.

Terkait munculnya gempa tremor non-harmonik, ia menyarankan masyarakat hendaknya tidak terlalu menanggapi secara berlebihan, karena merupakan gempa tak menerus, belum mengarah ke tremor menerus (harmonik). (grd/ant)