ANCAMAN ERUPSI - Ancaman erupsi Gunung Merapi dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga dibutuhkan kesiapsiagaan semua unsur dalam upaya penanggulanan bencana dan meminimalisir risiko jatuhnya korban.

“Gunung Merapi merupakan gunung yang masih aktif, dan masih akan terjadi erupsi.”


SLEMAN (Bisnis Jakarta) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengingatkan ancaman erupsi Gunung Merapi dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga dibutuhkan kesiapsiagaan semua unsur dalam upaya penanggulanan bencana dan meminimalisir risiko jatuhnya korban.

“Gunung Merapi merupakan gunung yang masih aktif, dan masih akan terjadi erupsi, kapan terjadinya lagi tidak dapat diprediksi dengan pasti, hanya saja setiap perkembangan yang terjadi dapat dipantau,” kata Kepala BPBD DIY Krido Suprayitno pada Gladi Lapang Penanganan Darurat Erupsi Gunung Merapi di Lapangan Jangkang, Ngemplak, Sleman, Rabu.

Menurut dia, karena itu perlu disiapkan upaya-upaya atau langkah-langkah dalam penanggulangan bencana erupsi Gunung Merapi, baik itu dari sisi masyarakatnya, pemerintah, maupun sarana dan prasarana.

“Erupsi Gunung Merapi merupakan salah satu acaman bencana yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Peristiwa Letusan dan Erupsi Gunung Merapi 2010 merupakan rangkaian bencana yang memberikan dampak terhadap timbulnya korban jiwa bahkan kerusakan dan kerugian yang cukup besar dari sisi ekonomi, sosial, psikologis, maupun lingkungan,” katanya.

Salah satu upaya pengurangan risiko bencana yang dapat dilakukan untuk mencapai kesiapan dan ketangguhan menghadapi bencana yang berkelanjutan adalah dengan melakukan latihan simulasi untuk dapat menguji coba kesiapsiagaan dari sistem koordinasi dan komunikasi yang telah dibangun.

“Gladi Lapang Penanganan Darurat Bencana Erupsi Gunung Merapi 2017 ini merupakan kegiatan akhir dari rangkaian kegiatan latihan Penanganan Darurat Bencana Erupsi Gunung Merapi 2017 yang didahului dengan kegiatan Table Top Exercise (TTX) dan Gladi Posko yang dilaksanakan pada Agustus 2017,” katanya.

Krido mengatakan, kegiatan ini melibatkan 416 peserta dari 35 Instansi Penanggulangan Bencana dari tingkat Kabupaten Sleman maupun tingkat DIY yang dibagi menjadi lima Klaster yaitu Klaster SAR, Klaster Kesehatan, Klaster Logistik, Klaster Komunikasi dan Klaster Keamanan.

“Gladi lapangan ini dirancang untuk latihan pennaggulangan operasi darurat di pos aju Merapi sektor D, yang meliputi wilayah Kecamatan Cangkringan sebelah timur Sungai Opak dan sebelah barat Sungai Gendol,” katanya.

Ada empat titik lokasi yang yang dipergunakan dalam kegiatan gladi lapang ini, yaitu Lapangan Jangkang Widodomartani sebagai pos aju Merapi sektor D dan tiga titik operasi operasi penyelamatan yang berada di dusun Ngepringan, Wukirsari, Cangkringan, Dusun Bakalan, Argomulyo, dan Dusun Ngancar Glagaharjo.

“Dipilihya tiga lokasi tersebut sebagai titik operasi penyelamatan karena pada erupsi 2010 menjadi daerah yang terdampak awan panas erupsi Gunung Merapi,” katanya.

Sedangkan tujuan dari kegiatan ini, kata dia, adalah untuk meningkatnya kemampuan taktis Petugas Penanggulangan Bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta menghadapi ancaman Erupsi Gunung Merapi.

Acara ini dihadiri Wakil Gubernur DIY Sri Paku Alam X, BNPB, Sekretaris Daerah DIY, Wakil Bupati Sleman, Kepala Instansi di Kabupaten Sleman dan DIY, serta Kepala Istansi terkait yang berhubungan dengan Penanggulangan Bencana. Penyelenggara Gladi Lapang Penanganan Darurat Bencana Erupsi Gunung Merapi 2017. (grd/ant)