JAKARTA (Bisnis Jakarta) – PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) berkomitmen untuk membantu nasabah mencapai impian dan aspirasi mereka, diantaranya membayar klaim secara cepat, sederhana serta memberikan solusi asuransi jiwa, kesehatan, dan investasi komprehensif. “Ini untuk memenuhi kebutuhan nasabah sesuai jalur akses pilihan mereka,” kata Direktur & Chief Marketing Officer PT Manulife Indonesia Novita Rumngangun di Jakarta, Selasa (17/10).

Tahun lalu, kata Novita, perusahaan telah membayar klaim asuransi, nilai tunai penyerahan polis, anuitas dan manfaat lain senilai Rp 6,8 triliun. Angka itu naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 5,6 triliun. “Manulife Indonesia yang sudah menapakkan kakinya di Tanah Air sejak 1985 itu kini memiliki 2,3 juta nasabah dan mengelola dana lebih dari Rp 55,8 triliun,” katanya.

Perhatian penuh kepada kepuasan nasabah itu jugalah yang terus mendongkrak kinerja Manulife. Tahun lalu, Manulife Indonesia melaporkan pertumbuhan bisnis konsolidasinya yang kuat. Pertumbuhan premi bisnis baru meningkat 29% menjadi Rp 3,7 triliun dari sebelumnya Rp 2,9 triliun. Lalu, penjualan produk investasi naik sebesar 20% menjadi Rp 1,9 triliun dari semula Rp 1,6 triliun, sedangkan penjualan produk asuransi melonjak 39% menjadi Rp 1,8 triliun dari tahun sebelumnya Rp 1,3 triliun.

Sementara Direktur SDM PT Gandum Yuwantana mengakui, reputasi besar dan eksistensinya yang panjang menggiring mereka untuk memlih Manulife untuk program dana pensiun karyawan. Apalagi, Manulife masuk jajaran lembaga keuangan yang diakui pemerintah dalam memberikan manfaat menarik untuk keringanan pajak pendapatan. ‘’Sebelumnya kami melakukannya dengan swakelola. Tetapi sangat berisiko. Jika perusahaan banyak cash flow tentu tidak masalah,” tutur Yuwantana.

Melalui Manulife, kata Yuwantana, premi yang dibayarkan mendapat jaminan. Dana itu juga tidak mati, tetapi ada hasil investasinya. “Ini demi kepentingan karyawan. Saat mereka pensiun, ketersediaan dana untuk pesangon selalu ada,” jelasnya seraya menyatakan, belum lama ini mengurus klaim belasan karyawan dengan nilai total di atas Rp 1,5 miliar.

Hal serupa juga diakui Tuti Sulusiah (39). Ia mengaku tidak kesulitan mengurus klaim di Manulife. “Ketika saya ikut Manulife, saat itu saya diopname karena sakit, saya ingat sekali bahwa agen yang sibuk mengurusi klaim saya, semuanya lancar. Keluar rumah sakit, saya tidak membayar apa-apa,” tutur Tuti.

Menurut Tuti, kepercayaan kepada perusahaan asuransi akan meningkat jika perusahaan itu bisa memberikan kepuasan kepada nasabahnya, terutama dalam pelayanan klaim. Tuti mengaku terbantu dengan adanya jaminan asuransi ini. ‘’Saya bersyukur bisa memperoleh layanan yang baik dari Manulife,’’ ungkapnya. (son)