SEMINAR INTERNASIONAL - Duta Besar Kanada untuk Indonesia, H.E Peter Mac Arthur, hadir di tengah acara International Seminar on Science (ISS) tahun 2017, di kampus IPB Baranangsiang, Kota Bogor Senin, (23/10).

BOGOR (Bisnis Jakarta) – Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Mr. H.E Peter Mac Arthur, hadir di kampus IPB untuk menjadi Keynote Speaker dalam acara  International Seminar on Science (ISS) ke-4 tahun 2017, yang digelar di gedung International Convention Center (IICC), Kampus IPB Barangsiang,  Kota Bogor, Senin, (23/10).

Kegiatan yang digelar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, merupakan hasil kerja sama dengan Direktorat Riset dan Inovasi IPB; Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI; University of Waterloo Kanada melalui projek Risk Management; Economic Sustainability and Actuarial Science Development in Indonesia (READI); dan PT. Diastika Bioteknindo.

H.E Peter, yang juga pakar di bidang ilmu aktuaria itu mengungkapkan kegembiraannya dapat membantu pendanaan melalui READI demi terlaksananya seminar ini. Ia menyampaikan kekagumannya terhadap IPB yang merupakan  salah satu mitra utama perguruan tinggi dari proyek READI, yang bertujuan membangun fondasi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas di Indonesia dengan memperkuat profesi aktuaria di negara ini.

Pasalnya, peran aktuaris dalam penilaian risiko sangat penting di sektor publik dan swasta. Selain itu, peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan READI untuk memperkuat profesi aktuaris dalam stabilitas ekonomi Indonesia.

“Saya sangat terkesan bahwa kampus IPB telah menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang memulai program sarjana ilmu aktuaria di Departemen Matematika, sejak 2016 itu. Saya senang mendengar bahwa jumlah siswa yang terdaftar untuk program tahun kedua juga bertambah menjadi dua kali lipat. Ini jelas menunjukkan minat yang tinggi untuk belajar ilmu pengetahuan anti arus,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Sarana dan Bisnis IPB, Dr. Arif Imam Suroso, berharap dengan acara ini akan ada landasan untuk pendidikan kolaboratif. Kolaborasi dalam penulisan ilmiah dan penelitian, membangun pertemuan ilmiah berkala, dan publikasi jurnal ilmiah dari masing-masing perguruan tinggi yang berpartisipasi. “Tentu, mengacu pada jurnal yang telah diakui oleh komunitas ilmiah di dunia. Hasil seminar ini akan dipublikasikan di jurnal masing-masing perguruan tinggi di Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Jadi ini menunjukkan bahwa sumberdaya sebenarnya tersedia untuk membangun penelitian dan kolaborasi pendidikan lebih lanjut di ASEAN,” ujarnya. (bas)