JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Pandangan terhadap usaha koperasi yang selalu miring dan hanya kelas pinggiran kini sudah saatnya harus ditinggalkan. Bisnis koperasi kini sudah masuk ke dalam usaha skala besar dan tidak kalah kinerjanya dengan usaha besar swasta lainnya. Salah satu buktinya adalah bahwa kini sudah ada koperasi yang mampu mendulang aset lebih dari Rp 7 triliun dan volume usaha lebih dari Rp 5,7 triliun. Hal itu dikemukan penulis dan pengamat perkoperasian lrsyad Muchtar saat peluncuran buku 100 Koperasi Besar Indonesia (KBI) 2017 di Auditorium Kementerian Koperasi UKM di Jakarta, Senin (30/10)

Buku terbitan ketiga setelah sebelumnya terbit pada tahun 2012 dan 2015 itu diluncurkan oleh Menteri Koperasi UKM AAGN Puspayoga dihadiri oleh 100 pengurus dan pengelola koperasi besar dari berbagai pelosok tanah air.

lrsyad mengatakan, bisnis koperasi skala besar terus tumbuh di berbagai daerah di tanah air. Menariknya, koperasi berskala beser justru berkembang di kota-kota yang terbilang relatif kecil. Pemuncak koperasi besar, yaitu Kospin Jasa dengan aset Rp 7,036 triliun dan volume usaha Rp 4,6 triliun, hingga kini masih terap berkantor pusat di Pekalongan, Jawa Tengah.

Koperasi Kredit Lantang Tipo dengan aset Rp 2,6 triliun dan volume usaha Rp 1,8 triliun tetap bermarkas di Kabupaten Sanggau, yang berjarak sekitar 250 km dari ibu kota Kalimantan Barat. Demikian pula dengan KSPPS UGT Sidogiri dengan aset Rp 2,3 triliun dan volume usaha Rp2,05 triliun mengelola usaha dari Pasuruan Jawa Timur. “asih terdapat sepuluh koperasi dari 100 KBI yang mencetak aset maupun omset lebih dari Rp 1 triliun,” kata Irsyad.

Pertumbuhan yang menggembirakan ini, menurut lrsyad, karena para pengelola koperasi besar mampu keluar dari bayang-bayang suram usaha koperasi yang selalu berkonotasi negatif, yaitu hanya menunggu kredit murah dan bantuan modal pemerintah. “Koperasi kini sudah banyak dipimpin oleh kaum muda, contohnya Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia di Tangerang, yang rata-rata dipimpin orang muda berusia 24,6 tahun,” paparnya.

Selain itu, jelas Irsyad, kemampuan koperasi untuk tanggap dengan perubahan teknologi yang berkemban kini juga menggembirakan. Hampir semua koperasi besar, kini familier dengan teknologi informasi. Bahkan banyak koperasi yang membangun jaringan usahanya berbasis digital dan melakukan transaksi online sebagaimana layaknya perbankan,” pungkas lrsyad. (son)