Kepala BKPM Thomas Lembong

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong meyakini peningkatan peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business/EoDB) Indonesia akan membantu upaya menggalang investasi. “Peningkatan EoDB akan sangat membantu menggalang PMA (penanaman modal asing) dan PMDN (penanaman modal dalam negeri). Ini bagian dari pengakuan dunia bahwa Indonesia serius mengenai reformasi perekonomian,” kata Thomas dalam jumpa pers di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu.

Dalam laporan tahunan Doing Business 2018 yang dirilis Bank Dunia, peringkat kemudahan berusaha Indonesia di 2018 secara keseluruhan naik 19 peringkat menjadi posisi 72 dari 190 negara yang disurvei. Pada EoDB 2017, posisi Indonesia juga meningkat 15 peringkat dari 106 menjadi 91. Tercatat dalam dua tahun terakhir posisi Indonesia telah naik 34 peringkat.

Thomas mengatakan peningkatan peringkat EoDB konsisten dengan pemeringkatan lainnya, seperti dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) dan Konferensi PBB mengenai Perdagangan dan Pembangunan (United Nations Conference on Trade and Development/UNCTAD) yang meningkatkan peringkat Indonesia sebagai destinasi investasi.

Ia juga mengingatkan, persaingan dengan negara-negara pesaing utama Indonesia terkait upaya menarik investasi akan semakin sengit. Peringkat kemudahan berusaha Indonesia dibanding negara-negara ASEAN berada di urutan enam setelah Singapura dengan peringkat 2 dalam EoDB 2018, Malaysia (24), Thailand (26), Brunei Darussalam (56), dan Vietnam (68).

“Saya garis bawahi, persaingan negara tetangga super sengit. Peringkat dua saingan utama di ASEAN, yaitu Thailand dan Vietnam, masih di atas dan mereka gencar membenahi diri dan memperlancar perdagangan sehingga semakin besar porsi rantai produksi regional yang pindah ke mereka,” tutur Thomas.

Ia menilai Indonesia harus terus melakukan reformasi perekonomian lebih lanjut guna menghindari kehilangan pangsa pasar. “Memang porsi kita dari kue manufaktur dunia naik terus, namun negara lain lebih dahsyat juga. Sektor jasa juga sangat berperan dan dipengaruhi kemudahan usaha,” ucap Thomas.

Sebelumnya, BKPM mencatat realisasi investasi sepanjang triwulan III/2017 mencapai Rp176,6 triliun, naik 13,7 persen dibanding capaian pada periode yang sama 2016 sebesar Rp155,3 triliun. Realisasi investasi triwulan III/2017 tersebut memiliki rincian penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp64,9 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp111,7 triliun.

Dengan capaian tersebut, secara kumulatif sepanjang Januari-September 2017, realisasi investasi investasi mencapai sebesar Rp513,2 triliun terdiri atas PMDN Rp194,7 triliun (37,9 persen) dan PMA Rp318,5 triliun (62,1 persen). (grd/ant)