NUSA DUA (Bisnis Jakarta) – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan perkebunan kelapa sawit sangat efisien dalam penggunaan lahan dibandingkan dengan tananam pengasil minyak nabati lain.

Dalam pembukaan Konferensi Sawit Internasional (IPOC) 2017 di Nusa Dua, Bali, Kamis (2/11) Joko mengungkapkan berdasarkan studi dari LMC International, sebuah lembaga riset dari Inggris, untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati (vegetable oil) dunia pada 2025, apabila menggunakan tanaman “rapeseed” membutuhkan tambahan lahan 50,5 juta ha.

Jika dipenuhi oleh tanaman minyak matahari (sun flower) membutuhkan tambahan lahan 70,4 juta ha, dan tanaman soyben butuh tambahan lahan 96 juta ha. “Tapi kalau dengan sawit hanya perlu 12,6 juta ha. Bahkan kalau produktivitas sawit bisa ditingkatkan menjadi rata-rata 8 ton CPO per ha per tahun, hanya perlu penambahan lahan 6 juta ha saja,” ujarnya.

Hadir dalam kegiatan “13th Indonesia Palm Oil Conference and 2018 Price Outlook” kali ini Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang mewakili Presiden Joko Widodo untuk membuka ajang tahunan tersebut.

Kegiatan Konferensi Sawit Internasional (IPOC) yang tahun ini memasuki tahun ke 13 mengambil tema: “Growth through Produktivity: Partnership with smallholders” (Peningkatan produktivits, kemitraan bersama petani).

Konferensi dan ekspo yang diikuti peserta dari 23 negara tersebut juga dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Jalil, beberapa menteri pertanian negara sahabat, sementara dari kementerian pertanian diwakili Sekjen dan Dirjen Perkebunan.

Menurut Joko Supriyono, ke depan produktivitas dan isu keberlanjutan akan menentukan dalam persaingan minyak nabati dunia, oleh karena itu kemitraan antara perusahaan dengan petani menjadi sangat penting. “Dan kita perlu mendapat dukungan lebih besar dari pemerintah,” ucapnya.

Dikatakannya, pengembangan kelapa sawit Indonesia harus selaras dengan “Sustainable Development Goals” (SDGs). Hal ini dilakukan untuk menepis tudingan-tudingan negatif yang dilakukan asing terhadap industri sawit Indonesia. “Di sisi lain, negara-negara maju juga akan semakin protektif melindungi pasar mereka terhadap penetrasi minyak sawit,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Joko memperkirakan produksi minyak sawit tahun ini mencapai 36,5 juta ton atau lebih tinggi jika dibandingkan total produksi tahun lalu yang mencapai 34,5 juta ton.

Peningkatan produksi ini dipastikan akan memberikan dampak lebih positif terhadap perekonomian nasional. “Ini membuktikan bahwa selama ini telah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Karena itu, peran industri sawit sangat penting,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Joko mengharapkan kepada pemerintah untuk mempertahankan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia dan menemukan pasar ekspor baru. “Kami juga membutuhkan iklim investasi kondusif dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) harus terus diperkuat,” katanya. (son/ant)