DENPASAR (Bisnis Jakarta) – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, berpeluang menggarap pasar kargo internasional khususnya dari Australia menuju Eropa dan Timur Tengah karena potensi yang besar sebagai bandara penghubung antarnegara.

“Pengiriman dari Australia tidak bisa langsung ke Arab Saudi misalnya tetapi mereka harus transit dan yang lebih dekat untuk itu adalah Bali. Jadi ini peluang besar,” kata Kepala Otoritas Bandara Wilayah IV Bali dan Nusa Tenggara Herson di Tuban kawasan Kuta, Kabupaten Badung, Kamis.

Menurut dia, selama ini Singapura menjadi negara tujuan transit untuk kargo internasional khususnya dari Australia dan Selandia Baru. Namun beberapa waktu lalu pihaknya mendapatkan informasi bahwa transit untuk kargo internasional di negeri dengan ikon kepala singa itu mulai berkurang karena sebagian perusahaan kargo memilih transit di Bali.

“Jika sudah seperti itu, ini peluang supaya pasar kargo dunia bisa diambil,” ucapnya.

Sementara itu General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Yanus Suprayogi mengatakan bahwa pihaknya masih melihat perkembangan pasar kargo internasional di Bali.

Saat ini pihaknya masih memanfaatkan gedung kargo yang dulunya merupakan gedung Air Paradise dengan luasaran gedung mencapai sekitar 50X100 meter sebagai tempat penyimpanan kargo sementara dari luar negeri yang akan dikirimkan kembali ke luar Indonesia.

“Spesifik kami membangun (gedung kargo) itu masih belum, yang ada kami manfaatkan. Nanti kami lihat perkembangannya,” ucapnya.

Sebelumnya Yanus dalam pemaparan masterplan pengembangan bandara kepada awak media beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa pertumbuhan kargo melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai selama tahun 2016 mencapai 51.560 ton baik domestik dan internasional.

Jumlah itu naik dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 30.850 ton. Kenaikan jumlah kargo itu diprediksi karena makin banyaknya maskapai penerbangan internasional yang membuka penerbangan langsung menuju Bali.

Selama enam tahun terakhir atau tahun 2011 hingga 2016 pertumbuhan kargo udara di Bali mengalami fluktuasi dengan angka tertinggi terjadi pada tahun 2011 mencapai 62.150 ton dan terendah tahun 2015 yang mencapai 30.850 ton. (grd/ant)