JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Direktorat Navigasi Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bekerjasama dengan Otoritas Penerbangan Swedia menyelenggarakan Workshop Digitalisasi Tower ATC termasuk di dalamnya terkait pengoperasian remote Air Traffic Services (ATS) di Jakarta, 7-8 November 2017.

Penyelenggaraan workshop ini merupakan tindak lanjut dari kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Swedia terkait Pengembangan Navigasi Penerbangan yang ditandatangani pada saat Raja Carl XVI Gustaf dari Swedia berkunjung ke Indonesia pada bulan Mei 2017 lalu dan ditindak lanjuti penandatanganan MOU oleh Menko Bidang Maritim, yang salah satunya adalah mengenai Air Traffic Management.

Workshop ini dibuka oleh Direktur Navigasi Penerbangan Yudhi Sari Sitompul dan dihadiri oleh jajaran Direktorat Navigasi Penerbangan, AirNav Indonesia, pengelola bandara serta tim expert Swedia dan perwakilan perusahaan SAAB dan LFV dari Swedia yaitu Mr. Klas Ogren dan Mr. Peter Noren. SAAB dan LFV merupakan perusahaan dan air navigation service provider Swedia yang mengembangkan teknologi digital ATS.

Menurut Yudhi Sari, perlunya pengembangan sistem navigasi penerbangan Indonesia ke arah digital, dilatarbelakangi semakin meningkatnya trafik lalu lintas penerbangan di Indonesia dengan sebaran traffic yang beragam. Salah satu indikatornya adalah dimasukkannya Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebagai satu dari 20 bandara tersibuk lalu lintas penerbangannya di dunia pada periode 2010-2015 oleh Airport Council International (ACI). “Kami dari Direktorat Navigasi Penerbangan menyambut baik workshop dari Pemerintah Swedia ini. Karena kami memiliki lebih dari 250 bandara mulai dari yang kecil hingga besar yang perlu dikembangkan dukungan teknologi sistem navigasi penerbangannya. Hal ini untuk mendukung keselamatan, kelancaran dan kenyamanan penerbangan serta efisiensi operasional bandara di Indonesia,” ujar Yudhi Sari.

Menurutnya, biaya operasional navigasi penerbangan mencapai 30-40 dari biaya operasional bandara. Jika sistem operasional navigasi penerbangan dilakukan dengan sistem teknologi digital modern, akan mampu menurunkan biaya navigasi penerbangan sehingga operasional bandara lebih efisien. “Swedia telah mengembangkan teknologi remote tower ATS dan sudah diujicobakan di beberapa bandara. Jadi Swedia mempunyai pengalaman dalam implementasi remote tower ini. Kita bisa belajar dan saling berbagi pengalaman dengan Swedia,” ujar Yudhi.

Yudhisari berharap dari workshop hari ini, Ditnavpen bersama dengan operator atau AirNav Indonesia dapat menyusun suatu konsep kedepan dan mengetahui seberapa mungkin mengaplikasikan atau menganalisa untung dan ruginya model remote tower ATC bila diterapkan di Indonesia.

Saat ini Organisasi Penerbangan Internasional (ICAO) terus membuat workshop terkait standard and recommendation practices di bidang remote aircraft (drone) dan juga remote ATS, termasuk di dalamnya terkait remote tower ATC.

Selain Swedia, beberapa negara yang telah melakukan ujicoba teknologi remote tower ini dengan sukses adalah Australia, Amerika Serikat, Belanda, Norwegia dan Irlandia. (son)