JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Program Studi Arsitektur Universitas Budi Luhur (UBL) melaksanakan kegiatan Wisata Daur Ulang Sampah bagi dosen dan mahasiswa yang tergabung dalam kerjasama delapan Perguruan Tinggi Swasta Program Studi Arsitektur di Jakarta. Kegiatan yang digelar pada 29 Oktober ini dikarenakan Universitas Budi Luhur telah memiliki Bank Sampah dan Galeri Bank Sampah sebagai percontohan. Hadir dalam kegiatan ini, Putri Suryandari, ST, M.Ars selaku narasumber sekaligus sebagai pengelola Bank Sampah dan Umi Tutik Asmawi selaku Ketua KSM Nyiur binaan Universitas Budi Luhur sebagai pengelola dari Galeri Bank Sampah.

Putri Suryandari mengatakan, pihaknya berharap ilmu yang diberikan dapat bermanfaat dan diterapkan di kampus masing-masing. “Dengan demikian setiap kampus dapat berperan aktif dalam menyelesaikan permasalahan sampah di DKI Jakarta,” ungkapnya.

Umi Tutik memberikan motivasi kepada peserta Wisata Daur Ulang Sampah dengan mengatakan  cintailah sampah dengan mengolah sampah daun menjadi Klaras sehingga memiliki manfaat bagi kita semua. Bahkan Jepang secara rutinitas membeli daur ulang sampah “Happa” di Galeri Bank Sampah Universitas Budi Luhur.

Setelah dilakukan pembukaan kegiatan oleh Deputi Rektor Universitas Budi Luhur Dr. Ir. Wendi Usino, M.Sc, peserta Wisata Daur Ulang sampah diajak melakukan kunjungan ke Bank Sampah. Terlihat minat peserta saat mempelajari bagaimana sistem bank sampah yang beranggotakan tidak hanya dosen, karyawan maupun mahasiswa dari Universitas Budi Luhur, tapi hingga masyarakat dari sekitas kampus.

Selanjutnya peserta kegiatan diajak untuk mengunjungi Galeri Bank Sampah. Peserta sangat terkejut melihat karya hasil daur ulang sampah yang diproduksi oleh lingkungan Universitas Budi Luhur. Semua sampah menjadi barang yang bermanfaat dan memiliki nilai jual yang tinggi. “Ini bukan saja membantu menyelesaikan masalah sampah, tapi dapat juga meningkatkan ekonomi,” kata Anggraeni Dyah S, ST, MT selaku Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Budi Luhur.

Tahapan akhir yang merupakan kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh semua peserta adalah workshop membuat lukisan klaras dari daur ulang sampah daun. Umi Tutik mengajarkan seluruh peserta untuk mendaur ulang sampah daun menjadi daun kering yang disebut sebagai klaras/happa. Selanjutnya daun kering tersebut dapat diberi warna sesuai kebutuhan. Kemudian Ibu Putri Suryandari, ST, M.Ars melanjutkan dengan memberikan contoh dan motivasi untuk menjadikan klaras menjadi lukisan.

Setiap peserta begitu antusias untuk menuangkan kreativitas masing-masing dalam lukisan klaras. Seperti terhipnotis dalam karya lukisan, hingga lupa bahwa waktu workshop telah berakhir. Ini menunjukkan bahwa klaras menjadi hal yang sangat menarik bagi semuanya. “Ternyata klaras banyak diminati oleh kampus-kampus lain, dan ini merupakan langkah awal yang baik untuk mensosialisasikan klaras ke masyarakat luas,” tambah Anggraeni Dyah S.

Di akhir kegiatan, 8 Perguruan Tinggi Swasta Program Studi Arsitektur di Jakarta sepakat untuk menyelenggarakan Pameran Karya Klaras pada seminar di UKI tanggal 15 November 2017. Ini merupakan perwujudan kecintaan kampus terhadap sampah. (grd)