JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Peningkatan kemampuan menulis publikasi bagi para dosen, dengan menggelar workshop dan pelatihan dalam menyusun penulisan publikasi bertingkat internasional, merupakan salah satu upaya Universitas Budi Luhur (UBL) Jakarta, untuk mengejar target 50 besar nasional dari 3200 perguruan di Indonesia.

“Dengan adanya Clinic Proposal dan Clinic manuskrip semua dosen wajib menulis sehingga rangking akan naik lagi. Ini upaya UBL, sehingga pada saat ultah ke 40 yang jatuh dua tahun lagi (2019-red), kita masuk dalam 50 besar nasional. Untuk itu maka disiapkan dari para dosennya, (kegiatan-red) riset, Haki dan lain sebagainya,” ungkap Rektor UBL,Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Didik Sulistyanto, Senin (20/11).

Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang peningkatan pengetahuan bagi para pelaku di dunia pendidikan, namun juga menjadi salah satu cara meningkatkan great dari para dosen di tanah air, khususnya dosen UBL.

Didik Sulistyanto menambahkan, Clinic and Writing International Scientific Jurnal (CWISJ) ini difokuskan pada kegiatan workshop, berkaitan dengan bagaimana cara menulis publikasi bertarap internasional yang baik. “Hadirnya Prof. Dr. Racidon Pamiloza Bernarte dari Polytchnic University of the Philippines dan Prof. Dr. Basanta Kumar, M. Sc., P. hD dari Xavier University India akan memberikan banyak sekali masukkan yang berkaitan dengan internasional publication,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama Prof. Dr. Racidon Pamiloza Bernarte, mengungkapkan, Pendidikan dan sharing ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan. “Di semua universitas, baik di Indonesia maupun di Philipina, kegiatan belajar mengajar bukan hanya sekedar mengajar, tapi juga pengetahuan produk. Dan dari pengetahuan tersebut perlu berbagi pengetahuan dan satu pengetahuan produk merupakan bagian terbaik dalam publikasi,” ujarnya.

Kini universitas khususnya di Indonesia, menurutnya akan lebih meningkatkan publikasi scientific. Ini salah satu cara kolaborasi pelatihan, karena membangun rekam jejak. Jadi membangun rekam jejak untuk kolaborasi bukan kebijakan yang salah, memang istimewa karena kita sekarang berada dalam hubungan di asia.

Melalui kegiatan clinic dan workshop, selain dapat meningkatkan kemampuan para dosen untuk menulis, tapi hasil penulisannya juga dapat masuk dalam jurnal indeks dan memiliki reputasi tingkat internasional.

 “Kami tentu memback up dengan pendanaan dari yayasan. Bagi dosen yang berhasil memasukkan jurnal internasional akan kami berikan insentif, ini adalah sesuatu yang positif. Dimana para dosen akan berpacu menigkatkan apresiasi penulisannya di dalam jurnal-jurnal yang bereputasi internasional,” ungkap Didik Sulistyanto.

Dia mengatakan baru beberapa bulan ini, UBL berhasil masuk dalam rangking dalam kinerja International publication dari kementrian, dimana UBL menduduki peringkat ke 74 dari 3200 Perguruan Tinggi Swasta di seluruh Indonesia. (grd)