JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Kenaikan peringkat keselamatan penerbangan Indonesia dari hasil audit USOAP ICAO, di mana Indonesia mampu menghasilkan nilai effective implementasi 81,15 % dan berada di atas rata-rata keselamatan penerbangan dunia, harus dijaga dan ditingkatkan. Langkah-langkah peningkatan keselamatan penerbangan tersebut diantaranya dengan meningkatkan management safety oversight yang lebih baik, di kalangan internal maupun eksternal. Demikian diungkapkan Direktur Kelaikaudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhu. Muzaffar Ismail saat membuka Workshop Optimalisasi Penyerapan Pilot AB-Initio mewakili Dirjen Perhubungan Udara di Tangerang, Rabu (22/11).

Menurut Muzaffar , langkah-langkah di lingkungan internal diantaranya dengan meningkatkan kualifikasi dan kompetensi Inspektur keselamatan penerbangan. “Saat ini Inspektur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara masih bergantung pada tenaga profesional yang ada di industri (airlines). Namun secara terprogram akan kami gantikan dengan tenaga Inspektur yang berasal atau berstatus Pegawai Negeri Sipil. Namun saat ini jumlah PNS yang memiliki kualifikasi pilot/penerbang di Kementerian Perhubungan khususnya Ditjen Perhubungan Udara masih kurang. Untuk itulah kami mengadakan recruitment pilot ab initio untuk dididik sebagai Inspektur Operasi Pesawat Udara yang akan ditempatkan pada Kantor Otoritas Bandara di seluruh Indonesia,” ujar Muzaffar.

Sistem pendidikan yang dilakukan dalam peningkatan kualifikasi dan kompetensi Inspektur ini diatur melalui Inspector Training System (ITS) Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU).

Selain itu, langkah-langkah di eksternal yang dilakukan Ditjen Perhubungan Udara adalah dengan terus melaksanakan standarisasi terhadap sekolah penerbangan dan operator penerbangan dengan training program yang berkelanjutan. Basic Training Program dilakukan di sekolah – sekolah penerbangan dan advanced training pada operator penerbangan secara berkelanjutan dan terintegrasi. Juga dilakukan peningkatan standar kualifikasi Flight Instructor (FI) pada sekolah penerbangan. “Untuk itulah dalam kesempatan yang baik ini saya sampaikan ucapan selamat kepada Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara dan seluruh jajarannya atas terselenggaranya kegiatan Workshop ini. Karena dengan workshop ini dapat dicapai dua tujuan. Yaitu mendapatkan tambahan Inspektor Keselamatan Penerbangan, serta dapat mengurangi pilot ab-initio yang masih menganggur,” lanjut Muzaffar .

Untuk mengurangi banyaknya pilot ab initio yang masih belum terserap pada maskapai penerbangan, Ditjen Perhubungan Udara juga melakukan terobosan dengan menyelenggarakan seminar dan workshop kepada para pilot ab initio. Workshop tersebut sifatnya peningkatan kompetensi dengan menghadirkan nara sumber dari berbagai maskapai penerbangan untuk memaparkan program dan sistem rekrutmen penerbang pada masing-masing maskapai penerbangan. “Untuk itu, kami menghimbau agar para pilot ab initio secara aktif membuka website Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan untuk mendapatkan informasi – informasi terkait lowongan kerja dan seminar – seminar yang akan datang,” ujar Muzaffar.

Sebagai regulator penerbangan di Indonesia, Muzaffar berharap semoga penyelenggaraan Workshop ini berkelanjutan sebagai jembatan komunikasi antara maskapai penerbangan dengan para pilot ab initio. Penyelenggaraan Workshop hari ini juga diharapkan mampu memberi manfaat sebesar-besarnya baik Ditjen Perhubungan Udara sebagai regulator, maskapai penerbangan sebagai pengguna kompetensi pilot ab initio dan para pilot ab initio untuk peningkatan kompetensi. (son)