AMLAPURA (Bisnis Jakarta) – Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), I Gede Suantika mengatakan, kondisi terakhir Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, terjadi dua lubang asap vulkanis sehingga menyebabkan kepulan asap yang sangat tebal.

“Lubang Gunung Agung yang pertama menghasilkan asap putih dan lubang kedua mengeluarkan abu kehitaman,” ujar I Gede Suantika saat ditemui di Pos Pemantauan Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem, Selasa.

Penyebab timbulnya dua lubang kawah baru ini, karena adanya dorongan magma dari perut Gunung Agung yang terus mendobrak keluar yang tidak mampu ditembus sehingga menimbulkan retakan dan lubang.

Menurut dia, kemungkinan kawahnya belum penuh magma sehingga belum ada yang keluar dari kawah gunung, sehingga proses pengumpulan lava akan terus terjadi ke depannya.

“Gunung Agung masih stabil dengan intensitas cukup tinggi dengan kepulan ketinggian 3.000 meter di atas puncak dengan arah kepulannya ke barat,” ujarnya.

Untuk tremor non harmoni menerus hingga saat ini terus terjadi 1-2 mm (minimal 1 mm), merupakan fase kegempaan yang membentuk aliran lava yang sudah terjadi di kawah Gunung Agung.

“Jadi kami terus memantau apakah amplitudonya terus membesar atau tidak, kalau pun besar maka volume lava yang keluar pasti besar. Namun, saat ini kondisinya masih kecil untuk amplitudonya dibandingkan Senin (27/11),” katanya.

Untuk mengetahui kriteria volume lava di dalam kawah yang penuh, dihitung secara manual, dimana diameter kawah Agung lebarnya 900 meter dengan ketinggian 200 meter dari puncak. Untuk proses keluarnya lava di kawah ada tipe meleleh dan seperti air mancur (stormbolian) yang tidak terlalu tinggi yang hanya sekitar di dalam kawah saja.

“Kami belum bisa memastikan berapa ke dalaman lava di dalam kawah saat ini, karena untuk memantau ini perlu menggunakan pesawat tanpa awak (dron) untuk mengambil foto kawah. Tapi, kami tidak berani melakukan ini karena kepulan abu vulkanis sangat besar,” ujarnya.

Menurut hasil data, suhu kawah di atas puncak sudah mencapai 300 derajat celcius atau sudah sangat panas sekali. “Saat ini memang sudah tercium bau belerang, namun untuk dihirup manusia belum masuk berbahaya,” ujarnya. (grd/ant)