AMLAPURA (Bisnis Jakarta) – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan jalur magma Gunung Agung makin terbuka menuju permukaan kawah karena aktivitas vulkanik masih tinggi dan berada dalam fase erupsi.

“Kegempaan masih didominasi dengan kemunculan gempa-gempa vulkanik dalam maupun dangkal,” kata Kepala PVMBG Kasbani di Pos Pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang, Karangasem, Sabtu.

Terbukanya jalur magma tersebut terjadi sejak aktivitas kegempaan mencapai puncak pada periode September-Oktober 2017. Meski saat ini jumlah kegempaan tidak sebanyak pada dua bulan periode tersebut, kata Kasbani, bukan berarti aktivitas vulkanik sudah mereda.

Hingga saat ini, tremor terus menerus dengan amplitudo melebihi batas kemampuan alat untuk merekam terus terjadi sejak 28 November 2017 yang mengindikasikan adanya intensitas aktivitas yang tinggi di dekat permukaan.

Selain itu, gempa-gempa frekuensi rendah beberapa kali terekam dan hal itu berkaitan dengan pergerakan fluida magmatik ke permukaan. PVMBG juga merekam data satelit yang secara konsisten merekam titik panas pada 27-29 November 2017 dengan temperatur berkisar 286,6-298,8 derajat Celsius dengan daya maksimum mencapai 97 megawatt.

Kasbani menuturkan data satelit juga mengindikasikan erupsi efusif atau aliran lava ke permukaan masih terjadi di dalam kawah. Erupsi efusif itu berimplikasi pada penambahan volume lava di dalam kawah dengan estimasi volume lava saat ini mencapai sekitar 20 juta meter kubik atau sepertiga dari volume total kawah.

Pada malam hari, PVMBG juga mencatat adanya sinar api yang memancar dari kawah Gunung Agung. Teramatinya sinar api di atas kawah, lanjut dia, dimungkinkan terjadi karena adanya lava bertemperatur tinggi di dalam kawah.

“Intensitas cahaya dari lava terpantul pada kolom asap menyebabkan fenomena sinar api ini teramati,” ucap Kasbani.

Ia menyimpulkan dalam fase erupsi ini, berdasarkan analisis data multiparameter bahwa hingga saat ini aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi. Untuk itu, PVMBG meminta masyarakat atau pendaki agar tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu dalam radius delapan kilometer dan ditambah perluasan sektoral ke arah utara-timur laut dan tenggara-selatan-barat daya sejauh 10 kilometer dari kawah Gunung Agung. (grd/ant)