TANGSEL (Bisnis Jakarta) – Kebudayaan betawi di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dikhawatirkan rawan punah. Salah satu indikasinya terlihat dari bahasa betawi yang saat ini sudah jarang dipergunakan. “Sekarang kita lihat, untuk bahasa saja sudah sangat jarang sekali yang masih pakai bahasa Betawi asli. Kalau tidak kita perbuat sekarang, maka bisa punah digerus zaman,” ungkap Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangsel, Syaifin.

Untuk menjaga kelestarian budaya betawi di Tangsel, perlu ada regulasi seperti Raperda tentang Pelestarian Budaya Betawi yang banyak melibatkan para tokoh dan budayawan Betawi yang ada di Kota Tangsel. “Karena ini kajiannya budaya, maka akan banyak tokoh dan budayawan yang akan kami libatkan dalam penyusunan Raperda ini. agar tidak ada aspek yang tertinggal nantinya,” imbuhnya.

Syaifin menambahkan, DPRD Kota Tangsel bakal menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. Bahkan, regulasi ini masuk dalam Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propem Perda) 2018. “Harus segera agar kebudayaan betawi tidak punah,” pungkasnya. (nov)