JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya hemat energi untuk menjamin ketersediaan energi bersih dan berkelanjutan, (Clean and Sustainable Energy) serta terjangkau bagi seluruh warga dunia. “Energi bersih dan berkelanjutan terdiri dari Energi Terbarukan, ditambah dengan hasil upaya Efisiensi dan Konservasi Energi Tidak Terbarukan. Yang disebut terakhir ini merupakan upaya masif yang harus dilakukan di semua sektor ekonomi, termasuk sektor Konsumen pemakai energi final yaitu listrik dan BBM),” kata Ketua Umum MASKEEI R.M. Soedjono Respati usai Munas di Jakarta, Rabu (6/12).

Munas dirangkai dengan Diskusi Panel tentang Strategi dan Rencana Aksi Nasional Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), Tujuan #7 tentang Energi BersihTerjangkau dan berkelanjutan, khususnya membahas Peranan Upaya Konservasi dan Efisiensi Energi di sektor Industri, Gedung dan Mobilitas.

Dengan upaya efesiensi energi melalui penerapan teknologi modern maupun perubahan perilaku pemanfaatan energi, kata Soedjono, maka akan dicapai pengurangan jumlah konsumsi energi tanpa harus mengalami penurunan manfaat dari pemakaian energi dengan tujuan produktif maupun konsumtif.

Indonesia, kata dia, selama puluhan tahun pembangunan selalu fokus untuk memenuhi pasokan energi dengan menambah kapasitas produksi energi primer dan pembangkitan tenaga listrik nasional (sisi supply) tetapi kurang memperhitungkan faktor pemborosan energi di sisi pemanfaatannya (demand side). Ditambah dengan adanya subsidi energi yang terus membengkak selama berpuluh tahun di masa lalu, maka masyarakat pemakai energi sulit untuk disadarkan akan pentingnya penghematan energi.

Disamping itu, jelas Soedjono, kebijakan penghematan energi sering disalah-artikan oleh kalangan menengah kebawah dari pemakai energi, seolah-olah harus mengorbankan kenyamanan hidup mereka, karena tingkat pemakaian energi yang dinikmatinya masih rendah.

Oleh karena itu, tambahnya, kebijakan Pemerintah tentang hemat energi selama ini tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Kalau dikaitkan dengan upaya mitigasi dampak perubahan iklim global, jelas Soedjono, masalah energi akan menjadi tantangan semakin serius untuk mencapai sasaran Perjanjian Paris 2015, terutama karena kebutuhan energi dari negara-negara berkembang terus meningkat, sedangkan negara-negara itu masih sangat tergantung dari energi fosil yang pemanfaatnnya menimbulkan dampak Gas Rumah Kaca (GRK) yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

Oleh karena itu, upaya efisiensi energi tidak hanya membuat energi lebih produktif tetapi juga mampu menghemat atau mengkonservasi jumlah energi yang dipakai, karena pengurangan jumlah pemakaiannya. “Saat ini hasil dari upaya efisiensi energi dianggap sebagai sumber energi pertama (first fuel), artinya sebelum kita menambah sumber energi untuk keperluan apapun, kita harus memenuhi kebutuhan kita melakui efisiensi energi,” pesannya.

Hadir dalam diskusi, Dirjen EBTKE, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rida Mulyana, Dirjen Industri Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronik Kementnerian Perindustrian, Harjanto, Kepala Balitbang Kementerian Perhubungan Umiyatun Astuti; Kepala Balitbang Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Danis Sumadilaga, serta Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Energi Terbarukan dan Lingkungan HIdup Hallim Kalla, serta Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Dr. Bambang Sumantri Brodjonegoro bertindak sebagai Pembicara Kunci.

Munas MASKEEI juga diramaikan dengan Acara Seminar tentang Digital Solutions For Energy Efficiency, diikuti oleh Schneider Electric, sebuah perusahaan kelas dunia berkantor pusat di Paris, Perancis, yang memproduksi berbagai solusi digital untuk meningkatkan produktivitas energi. (son)