TANGSEL (Bisnis Jakarta) – Meninggalnya salah satu mahasiswi Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Tangerang Selatan (Tangsel) , Auffatul Khuzzah, karena terserang wabah difteri membuat sejumlah  mahasiswa UIN mengaku khawatir. Karena itu mereka mendesak agar rumah sakit UIN Syarif Hidayatullah memberikan vaksin difteri tak hanya bagi anak usia 0-19 tahun. “Saat ini RS UIN tidak menyediakan vaksin untuk mahasiswa yang umurnya di atas 19 tahun,” ungkap salah seorang Mahasiswa UIN Jakarta, Adhia Muzakki.

Saat ini pihak RS UIN hanya menyediakan vaksin bagi yang berusia 0-19 tahun saja. Sedangkan mahasiswa UIN Jakarta yang mencapai puluhan ribu tersebut mayoritas berusia di atas usia tersebut.

Adhia meminta pihak kampus melalui RS Syahid UIN bisa menggratiskan pemberian vaksinasi difteri kepada seluruh mahasiswa UIN Jakarta guna mencegah hal serupa kembali terulang. “Saat ini kami suruh mandiri, beli sendiri kalau mau divaksin,” imbuhnya.

Sementara itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dede Rosyada ketika dikonfirmasi mengakui pihaknya saat ini melalui RS UIN hanya melayani pemberian vaksin gratis bagi usia 1-19 tahun saja, dan saat ini sedang mengupayakan agar bisa mendapatkan solusi untuk pemberian vaksin bagi dosen, karyawan dan mahasiswa UIN Jakarta lainnya. “Untuk vaksin RSSH sebagai RS kampus sudah melayani vaksinasi gratis untuk usia 1-19, untuk usia di atas 19, RSSH sedang berusaha kontak Dinkes Tangsel untuk memperoleh vaksinnya,” tandasnya. (nov)