BOGOR (Bisnis Jakarta) – Tim peneliti dari Institit Pertanian Bogor (IPB), bersama para peneliti dari Laboratory of Aquaculture and Artemia Reference Center, Ghent University, Belgia berkolaborasi melakukan penelitian bersama untuk melihat pengaruh teknologi bioflok (BFT) pada pertumbuhan dan ketahanan larva ikan Nila (Oreochromis niloticus).
Anggota tim peneliti IPB yang tergabung dalam program tersebut,  terdiri dari Julie Ekasari, Dio Rheza Rivandi, AmaliaPutri Firdausi, Enang Harris Surawidjaja dan Muhammad Zairin. Mereka ini adalah para peneliti dari Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK-IPB). Sementara dari Negara Belgia diwakili oleh 2 peneliti, yakni Mr.Peter Bossier dan Peter De Schryver, dari Laboratory of Aquaculture and Artemia Reference Center, Ghent University.
Dalam keterangannya, Julie Ekasari, salah satu Tim Peneliti IPB menyampaikan, bahwa prinsip dasar teknologinya adalah pengelolaan siklus nitrogen dalam sistem budidaya air stagnan dengan stimulasi pertumbuhan mikroba yang mampu mengubah limbah nitrogen, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan oleh spesies budidaya.
“Mudah mudahan apa yang kami teliti ini akan bermanfaat dalam membantu masyarakat, khususnya para perternak ikan Nila dalam upaya memenuhi kubutuhan akan pakan ikan berkualitas,”  ujar Julie, di kampus IPB. Rabu, (10/01).
Menurut Julie, larva yang diperoleh dipindahkan pada wadah uji berupa tanki plastik dengan volume air 1,5 liter,lalu sebanyak 15 ekor larva ditebar dan dilakukan uji pertumbuhan dengan empat perlakuan yang meliputi BFT / BFT: larva ikan dari bak induk BFT dipindahkan pada air BFT (dengan tambahan molase), BFT / C: larva ikan dari bak induk BFT dan dipindahkan pada air kontrol (tanpa tambahan molase), C / BFT: larva ikan dari bak induk kontrol dan dipindahkan pada air BFT (dengan tambahan molase) dan (4) C / C: larva ikan dari bak induk kontrol dipindahkan pada air kontrol (tanpa tambahan molase). Pertumbuhan dan kelangsungan hidup dilihat setelah 14 hari masa pemeliharaan.
“Ya dari hasil percobaan tersebut kami tim peneliti menemukan bahwa kelangsungan hidup larva yang berasal dari BFT yaitui 90-98 persen lebih tinggi daripada kelangsungan hidup larva yang dipelihara pada media air kontrol tanpa penambahan molase dengan nilai 67-75 persen. Sementara pada pertumbuhan larva tidak terlalu terpengaruh, meski demikian pertumbuhan larva tampak lebih seragam saat larva ditaruh pada media air BFT,” paparnya.
 
Peneliti tersebut, lanjutnya, juga melakukan uji larva terhadap infeksi bakteri patogen Streptococcus agalactiae, dan terlihat bahwa kelangsungan hidup larva dari media BFT terlihat berbeda secara signifikan. Kelangsungan hidup larva yang berasal dari media air BFT lebih tinggi yaitu 75-80% sementara kelangsungan hidup larva kontrol yang ditempatkan pada media air kontrol sekitar 55%.
“Penempatan larva dari media air kontrol dalam media air BFT mampu meningkatkan resistensi infeksi dengan kelangsungan hidup sekitar 70%. Pada uji stres salinitas, dilakukan pengamatan selama 1 jam untuk mengetahui toleransi larva terhadap tekanan osmotik pada 35 g /L. Hasilnya, Larva berasal dari BFT menunjukkan kelangsungan hidup dari 72% dan 42% pada 1 jam dan 24 jam setelah tekanan salinitas masing-masing,” jelasnya.
Secara signifikan, kata dia, ini lebih tinggi dari pada larva yang berasal dari media kontrol dengan kelangsungan hidup 33% dan 5%.
“Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa penerapan teknologi bioflok untuk pemeliharaan induk dan produksi larva dapat meningkatkan produksi dan kualitas larva,”  ungkapnya. (bas)