BANDUNG (Bisnis Jakarta) – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan selaku regulator penerbangan nasional akan memberikan dorongan teknis percepatan sertifikasi kepada PT Dirgantara Indonesia (DI) sebagai satu-satunya aircraft manufacturer di tanah air dan di ASEAN agar mampu memproduksi dan memasarkan produk-produknya secara lebih progresif di pasar internasional.

Dorongan teknis yang akan diberikan misalnya adalah bantuan teknis sertifikasi disain, type, sampai produk sesuai aturan-aturan penerbangan internasional (Annexes ICAO) dan nasional CASR serta membantu dalam hal pemasaran ke negara-negara sahabat Indonesia melalui Bilateral Airworthines Recognition ataupun Bilateral Airworthiness Agreement.

Demikian diungkapkan Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso di sela-sela acara serah terima tiga unit helikopter serang TNI AD, satu unit pesawat udara CN235 MPA TNI AL, dan dua unit helikopter AKS (Anti Kapal Selam) TNI AL dari PTDI kepada Kementerian Pertahanan di Hanggar PT DI Bandung, Selasa (8/1).

Menurut Agus, produk-produk PTDI sudah dikenal handal dan dipakai oleh banyak negara di dunia. Untuk itu PTDI perlu didorong untuk lebih banyak membuat produk yang dibutuhkan baik oleh pasar Internasional maupun pasar nasional. “Kami akan memberikan dorongan teknis agar PTDI mampu lebih progresif dalam penetrasi pasar dunia. Misalnya saja bulan lalu kami sudah melakukan pembicaraan dengan otoritas penerbangan Meksiko, di mana negara tersebut sudah banyak memakai pesawat jenis CN-235 dan NC-212 dan akan membeli lebih banyak lagi pesawat type tersebut. Namun mereka masih terkendala masalah sparepart maupun component. Untuk itu kami mendorong PTDI untuk juga memproduksi sparepart maupun component pesawat-pesawat tersebut sehingga pemasarannya bisa lebih bagus,” ujar Agus.

Selain itu, Ditjen Perhubungan Udara juga akan memberikan dorongan agar PTDI memproduksi pesawat-peawat yang dibutuhkan untuk penerbangan nasional, seperti misalnya pesawat-pesawat untuk beroperasi di Papua yang daerahnya bergunung-gunung mounteneous area, banyak bukit dan jurang terjal.

Menurut Agus, pesawat yang cocok untuk kondisi alam di Papua tersebut adalah pesawat yang mampu mengudara dan mendarat di landasan yang pendek. Selain itu juga pesawat yang mempunyai stall speed rendah sehingga bisa terbang pelan dan melakukan manuver dengan baik di sela-sela tebing pegunungan di Papua. “Pesawat N219 yang saat ini diproduksi PTDI adalah pesawat yang cocok untuk hal tersebut. Untuk itu kami akan mengawal dalam proses sertifikasinya sehingga pesawat tersebut menjadi handal dan bisa diproduksi massal. Dengan sertifikasi yang baik dari otoritas penerbangan yang diakui dunia, maka pesawat N219 tersebut nantinya juga akan bisa dipasarkan ke negara-negara yang membutuhkan dan mempunyai kondisi alam seperti Papua,” lanjut Agus lagi.

Untuk menerbangi Papua selain dibutuhkan pesawat terbang yang lincah bisa bermaneuver, stall speed rendah, juga yang tidak kalah penting adalah peralatan navigasi yang advance, Semua itu dilakukan oleh Ditjen Perhubungan Udara selaku regulator penerbangan untuk menguatkan operator penerbangan di Indonesia dalam melayani accessibilitas Papua yang lebih kontinue. “Sebagai regulator, kita biasa mengenal 3 A operator yaitu Airport, Airlines dan Air Navigations. Di Indonesia, sekarang ditambah A satu lagi yaitu aircraft manufacturer. Untuk itu kami juga akan membantu, mengawasi dan membina aircraft manufacturer ini agar bisa berkembang dan memberikan kontribusi lebih banyak bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Untuk daerah Papua sebagaimana sering diamanatkan oleh Presiden Joko Widodo agar kita memperhatikan saudara kita di Papua, maka untuk melaksanakan perintah presiden tersebut Agus sebagai lead regulator penerbangan Indonesia menindaklanjuti instruksi presiden dengan menggelar “Trans Udara Papua”, istilah trans udara papua ia ambil dari similaritas jalan trans papua yang dibangun atas instruksi presiden terhadap jalan raya yang membelah Papua oleh kementerian PUPR.

Masih segar dalam ingatan kita bahwa presiden Joko Widodo mengendarai motor trail menyusuri jalan trans Papua, “Trans Udara Papua ini ditempuh dengan cara memasang peralatan navigasi advance di 109 bandara udara yang tersebar di kedua provinsi Papua, sehingga panduan pesawat terbang yang menjelajahi Papua akan lebih smooth dan accessibilitas penerbangan di Papua akan lebih mudah terjangkau mirip seperti di wilayah daratan pulau Indonesia lainnya”, imbuh Agus.(son)