JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Bandara Notohadinegoro yang terletak di Desa Wirowongso Kecamatan Ajung Kabupaten Jember, Jawa Timur akan dikembangkan sehingga dapat melayani operasional pesawat sejenis Boeing B737- 800NG/900 ER dan Airbus A320. Terkait hal tersebut, Dirjen Perhubungan Udara beserta jajarannya menerima Bupati Jember Faida beserta jajaran Pemerintah Daerah Jember dan pihak-pihak yang terkait untuk melakukan rapat koordinasi pengembangan tersebut di Jakarta, Kamis (11/1).

Rapat koordinasi dihadiri oleh Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso dan jajarannya, Bupati Jember Hj. Faida MMR beserta jajarannya termasuk UPTD Bandara Notohadinegoro, perwakilan dari PT. Angkasa Pura II, perwakilan dari PTPN XII dan Otoritas Bandara III dan UPBU Bandara Trunojoyo.

Dirjen perhubungan Udara Agus Santoso menyambut baik keinginan dari Pemda Jember tersebut. Menurut Agus, pengembangan suatu bandara juga bisa menjadi salah satu pendorong bagi pertumbuhan ekonomi daerah sekitarnya. Namun demikian, pembangunan bandar udara juga harus memperhatikan daerah sekitarnya sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. “Saya perhatikan wilayah Jember dan sekitarnya perkembangannya sangat pesat. Jadi pengembangan bandara di daerah tersebut menurut saya juga perlu dilakukan. Namun demikian, pengembangan bandara juga harus memperhatikan daerah sekitar, seperti misalnya akses jalannya, sarana transportasi darat serta pembebasan lahannya harus clear. Dengan demikian tidak timbul permasalahan di kemudian hari,” ujar Agus.

Sementara Bupati Jember Faida dan UPTD Bandara Notohadinegoro meminta pedoman kepada Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso dan jajarannya terkait pengembangan bandara yang saat ini pengelolaannya masih dibawah UPTD Kabupaten Jember tersebut sehingga lebih berkembang dan menjadi pemicu perkembangan ekonomi daerah sekitarnya.

Faida menyatakan terimakasih atas dukungan Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso dan siap untuk melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk melancarkan pengembangan Bandara Notohadinegoro tersebut. Menurut Bupati, pihaknya juga mempunyai keinginan untuk menjadikan Bandara Notohadinegoro menjadi sub embarkasi untuk penerbangan Jamaah Haji dari wilayah Jember dan sekitarnya.

“Saat ini kami tengah berkoordinasi dengan beberapa pihak agar pengembangan bandara menjadi sub embarkasi penerbangan haji bisa cepat terwujud. Antara lain kami berkoordinasi dengan Kementerian Agama, Kementerian Hukum dan HAM serta Ditjen Imigrasi. Kami juga melakukan pendekatan dengan pihak PTPN XII selaku pemilik lahan di sekitar bandara untuk pelebaran akses jalan menuju dan dari bandara yang menjadi concern kami,” ujarnya.

Selain itu pihak Pemda Jember juga melakukan koordinasi dengan PT Angkasa Pura II terkait pengembangan dan pengelolaan bandara setelah pembangunan.

Menurut Faida, saat ini di Jember dan sekitarnya sudah ada 17 kloter jamaah haji tiap tahunnya. Selama ini para jamaah haji tersebut selalu menggunakan transportasi darat menuju Bandara Juanda Surabaya sebagai embarkasi utama untuk kemudian diterbangkan menuju tanah suci. Dengan dijadikannya Bandara Notohadinegoro sebagai sub embarkasi, nantinya para jamah haji tidak lagi menggunakan transportasi darat, namun menggunakan pesawat untuk menuju dan balik dari Bandara Juanda Surabaya sehingga tidak melelahkan dan mempersingkat waktu tempuh.

Bandara Notohadinegoro saat ini mempunyai panjang landasan 1.560 meter yang hanya bisa melayani pesawat terbesar sejenis ATR 72-600 yang dioperasikan oleh maskapai Garuda Indonesia dengan rute Jember-Surabaya PP. Panjang landasan bandara ini akan diperpanjang hingga menjadi 2.500 meter x 105 meter sehingga mampu melayani pesawat sejenis Boeing B737 800NG/ 900 ER dan Airbus A320.

Bandara tersebut saat ini mempunyai terminal penumpang seluas 618,24 m2 dengan kapasitas 70 tempat duduk. Terminal penumpang ini akan diperbesar menjadi seluas 6.732 m2 dengan kapasitas 187 tempat duduk. (son)