JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Sehubungan dengan masukan yang disampaikan Asosiasi Pilot Garuda Indonesia (APG) terkait kinerja perusahaan, manajemen menyampaikan apresiasi atas masukan yang disampaikan para pilot bersama dengan Serikat Karyawan Garuda Indonesia tersebut.

Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Hengki Heriandono menyadari bahwa para pilot dan Sekarga tentunya memiliki komitmen dan kesadaran bersama atas keberlangsungan bisnis perusahaan untuk dapat terus berkembang. Kami pastikan bahwa hal-hal yang dieskalasikan rekan-rekan pilot tersebut tentunya akan selalu menjadi perhatian perusahaan,” kata Hengki.

Khususnya terkait komitmen efisiensi yang saat ini dijalankan perusahaan yang tentunya mempertimbangkan seluruh aspek terkait yang dipastikan tidak berdampak pada aspek layanan kepada penumpang maupun kondisi operasional perusahaan. Manajemen akan tetap mengedepankan aspek safety yang menjadi landasan utama komitmen Operational Excellence yang dijalankan perusahaan.

Mengenai usulan atas perubahan struktur jajaran manajemen perusahaan, Hengki mengatakan, Garuda Indonesia menyerahkan sepenuhnya hal tersebut kepada pemegang saham dalam hal ini pemerintah, sesuai dengan mekanisme dan landasan hukum yang berlaku.

Sementara itu, sejalan dengan upaya efisiensi yang dilaksanakan, Garuda Indonesia telah melaksanakan renegosiasi kontrak pesawat bersama pihak manufaktur atau lessor sehingga dapat menurunkan harga sewa pesawat hingga 25%. Selain itu, Garuda Indonesia terus memaksimalkan potensi armada yang ada saat ini dengan melakukan utilisasi armada di rute-rute padat penumpang.

Selain itu perusahaan juga menjalankan strategi pemasaran melalui penetrasi pasar digital dengan capaian transaksi digital di tahun 2017 mencapai 186.5 Juta dolar AS atau meningkat 7.2%.

Mengenai sorotan kinerja keuangan, Garuda Indonesia juga berhasil menekan tren kerugian dari 1Q-2017 sebesar U 99.1 juta dolar AS menjadi 38.9 juta dolar AS pada 2Q-2017. Garuda Indonesia juga telah berhasil membukukan laba operasi sebesar 61.9 juta dolar AS pada periode 3Q-2017 (diluar tax amnesty dan extraordinary items sebesar 145 juta dolar AS). Jumlah itu naik 216.1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Garuda Indonesia juga terus memaksimalkan kinerja operasional yang sebelumnya sempat terdampak akibat force majeur erupsi Gunung Agung sehingga harus dilakukan penyesuaian secara massive pada sistem penugasan crew & pesawat. Namun demikian saat ini kondisi operasional perusahaan sudah berlangsung kondusif, bahkan capaian tingkat ketepatan waktu sempat menyentuh angka diatas 90% pada periode peak season akhir tahun.

Sejalan dengan dinamika organisasi yang terus bergerak dinamis, aspirasi hak kepegawaian tetap menjadi prioritas manajemen sebagai bagian dari upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif. (son)