JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) membuka serangkaian kegiatan Digital and Risk Management in Insurance (DRiM). lnisiatif ini bertujuan untuk merespon cepatnya Perkembangan teknologi digital, khususnya dalam hubungan perusahaan dengan konsumen, percepatan ragam proses bisnis dan penyebaran informasi, sekaligus membantu meningkatkan dan memajukan penetrasi asuransi jiwa.

Mengutip data “Digital in 2017: Southeast Asia” dan’ We Are Social dan Hootsuite (2017), dari sekitar 262 juta populasi di Indonesia, 50 persen atau sekitar 132,7 juta jiwa adalah pengguna intemet. Dari 132,7 juta jiwa, sebanyak 106 juta jiwa merupakan pengguna aktif media sosial, dan 92 juta jiwa merupakan pengguna aktif media sosial melalui aplikasi mobile. “Hal ini memperlihatkan tingginya kebutuhan masyarakat akan informasi dan respon real time yang cepat dan tepat, serta keinginan mereka untuk mendapatkan kemudahan akses dan Iayanan dimana pun dan kapanpun,” ungkap Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim di Jakarta, Selasa (24/1).

Ia menambahkan, fenomena perkembangan teknologi digital sudah tidak dapat disikapi oleh industri secara reaktif. Teknologi tidak hanya mengubah perilaku individu dalam melakukan kegiatan sehari-hari, namun juga mengubah perilaku pelaku bisnis dalam menjalankan bisnisnya. “Melalui kegiatan ini, AAJI berkomitmen untuk terus mendukung program Iiterasi dan inklusi keuangan dari pemerintah dan OJK, serta mendorong para pelaku industri asuransi jiwa agar lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi, termasuk dalam hal manajemen risiko yang juga harus terus dikembangkan,” tambahnya.

Sebagai kegiatan pembuka dari DRiM, AAJI bekerja sama dengan Purwadhika Start-up and Coding School, untuk menggelar hackathon start-up competition yang diikuti sekitar 100 orang generasi muda yang akan mempresentasikan ide dan karyanya terkait web dan aplikasi digital terkait proteksi asuransi jiwa. Kegiatan ini kemudian akan diikuti dengan seminar dan pameran dimana perwakilan dari pemerintah, regulator, pelaku asuransi jiwa dan para ahli teknologi dan digital akan berbagi mengenai perkembangan teknologi digital dan manajemen risiko pada tanggal 22-23 Februari 2018 di Bali.

Ketua Panitia DRiM Christine Setyabudi mengatakan, DRiM merupakan kegiatan perdana atas inisiasi AAJI yang didukung oleh para pelaku industri asuransi jiwa untuk menjawab perkembangan teknologi digital dan pengaruhnya pada industri. “Dengan saling mendukung dan bekerjasama ini, kami yakin dapat memberikan aksi nyata pada kemajuan industri asuransi jiwa. Kita tahu, Indonesia merupakan negara ke-8 terbesar dalam hal penggunaan intemet, potensi ini sudah seyogyanya kita maksimalkan termasuk mampu mengatasi risiko yang terdapat di dalamnya,” tambahnya. (son)