JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Sosok Johanes Paulus berhasil menjadikan musim hujan sebagai berkah. Istana Payung sebagai toko penjual payung dan jas hujan tak lepas dari tangan dingin pria ini. Johanes Pauluslah adalah orang dibalik berjayanya Istana Payung. Bisnis ini dimulai sejak 2008, setelah dirinya berpengalaman selama 4 tahun menggeluti bisnis payung di toko milik pamannya. Sarjana ekonomi jebolan Universitas Bunda Mulia ini merupakan sosok ulet dan pekerja keras. Sebab, ia menjalani rutinitas kuliah sambil bekerja.

Johanes Paulus

Sejak kuliah hingga setelah lulus, ia mengaku juga sempat menjajal beragam profesi dari kerja di perbankan, menjadi agen asuransi sampai sales. Cita-citanya menjadi musikus pun pupus pasca band besutannya bubar. “Hobi saya ini bermain musik. Saya buat band sama teman-teman. Tapi setelah kuliah, ada yang kerja dan bisnis, bubarlah band kami. Saya juga akhirnya lebih memilih kerja yang fleksibel. Saya belajar bisnis payung di toko paman,” katanya.

Pada 2008, gairah dan talenta bisnisnya makin terasah. Johanes pun mendirikan Istana Payung dengan modal sekira Rp50 juta. Ia menyewa sebuah toko untuk menjajakan payung-payungnya. Bagi pria berusia 36 tahun ini, bisnis payung masih memiliki prospek yang cukup bagus. Sebab, Indonesia beriklim tropis, dan bisnis payung sangat bergantung pada cuaca hujan.

“Prospeknya bagus, apalagi kalau musim hujan. Saya satu-satunya toko yang sepanjang tahun hanya menjual payung. Sementara yang lain, ketika masuk musim kemarau, mereka beralih dengan menjual beragam produk lain seperti sandal, buku, petasan, dan lainnya. Saya sih tetap konsisten, kalau pun kemarau, toko sepi itu risiko.”

Namun dengan konsistensi yang dilakukannya, hal tersebut berimbas positif pada perkembangan bisnisnya. Sebab, ia semakin dikenal ke berbagai penjuru sebagai penjual payung yang tak kenal musim. Sehingga, orang dari manapun, yang mencari payung, tak segan untuk langsung datang ke lokasi tokonya di kawasan Perniagaan Timur, Jakarta Barat.

Ia menjual antara 80—100 merek payung dari berbagai Negara. Modelnya pun lengkap dari payung lipat, payung panjang, payung golf sampai payung mobil. Ia memberikan tips dalam membeli paying. “Yang bagus itu yang rangkanya anti angin. Umumnya yang berbahan fiber lebih baik, karena tidak karat, lebih kuat, dan lebih ringan,” sebutnya.

Di tokonya, harga payung dijual dari harga Rp17,5 ribu hingga Rp250 ribu. Dengan pengalamannya di bisnis ini, ia menjadi piawai dalam memilih produk yang berkualitas. Misalnya, ia menjual merek Rosida dan Jope asal Taiwan dan Jerman yang dikenal dengan kualitasnya.

Di musim hujan seperti sekarang, menjadi berkah tersendiri baginya. Sebab, penjualan payung akan melonjak tajam. Diakuinya, rerata penjualan payung saban bulannya antara 1.000 sampai 10.000 buah. Konsumennya pun tersebar di berbagai daerah di Tanah Air termasuk luar negeri seperti Singapura dan Maldives. “Untuk pasar mancanegara, paling banyak kami kirim ke Maldives. Pasar Singapura juga cukup baik.”

Sementara untuk menyiasati pasar di musim kemarau, biasanya ia menyasar pasar korporat yang akan membuat payung promosi dan souvenir. Diakuinya, di pasar ini prospeknya juga masih cukup baik. “Untuk payung promosi dan souvenir itu custom, dengan minimal pemesanan sebanyak 10 lusin. Harga paling murah bisa Rp25 ribu per buah dengan logo satu warna,” ujarnya.

Selama ini pasar terbesarnya masih didominasi oleh para reseller. “Ya, yang paling banyak, mereka beli di kami untuk kemudian dijual kembali,” imbuh dia. Stok payung yang disiapkannya sebanyak 1.000 lusin. Selain payung, ia juga menyediakan jas hujan yang terdiri dari 3 macam, baju-celana, ponco (kalong), dan mantel buat pejalan kaki. Yang terbaru, bahkan dirinya juga menjual jas hujan plastik sekali pakai. “Harga kami juga bersaing, dari Rp5 ribu sampai Rp200 ribuan,” tukasnya.

Selain pasar offline, kini ia juga tengah mengembangkan untuk membidik pasar online melalui website, media sosial, dan marketplace. “Selain memperkuat offline, saya juga memperbesar online. Agar kami tetap bertahan dan dicintai konsumen, kami akan tetap jaga kualitas produk. Nah, terkait kualitas produk, lantaran kami fokus di bidang ini, menjadikan kami lebih tahu barang yang bagus dan warna yang paling disukai oleh konsumen. Dengan fokus menjadikan kami lebih tahu produk yang disukai oleh pasar.”

Dengan fokus dan konsisten pada bisnisnya, hal ini berbuah manis pada omzet yang dibukukannya. Tiap bulan Istana Payung mampu meraih omzet antara Rp50-100 juta. Saat ini ia dibantu sepuluh karyawan. (grd)