Pekanbaru, 24/2 ( Bisnis Jakarta ) – Sebanyak sepuluh titik panas yang menjadi indikasi kebakaran hutan dan lahan terdeteksi satelit di Provinsi Riau, Sabtu.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru yang diterima Antara, total ada 12 titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera berdasarkan citra Satelit Terra & Aqua yang diperbarui pada pukul 06.00 WIB. Riau mendominasi sepuluh titik panas, sedangkan sisanya terdeteksi di Provinsi Kepulauan Riau.

Titik panas di Riau paling banyak berada di Kabupaten Siak dengan jumlah enam titik, kemudian masing-masing ada dua titik di Pelalawan dan Indragiri Hilir. Jumlah “hotspot” pada hari ini naik signifikan, setelah pada Jumat (23/2) satelit mendeteksi Riau nihil titik panas.

BMKG mengerucutkan lagi menjadi tiga titik berdasarkan tingkat keakuratan (level confidence) di atas 70 persen. Artinya, lokasi tersebut kemungkinan besar adalah titik api kebakaran hutan dan lahan.

“Kabupaten Pelalawan satu titik, Indragiri Hilir satu titik, dan Siak satu titik,” kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Sukisno.

Sebelumnya, pada pertemuan antara Badan Restorasi Gambut (BRG) dan Pemprov Riau, Jumat (23/2) Kepala Sub Bidang Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Mitra Adhimukti, berharap BRG bisa mendanai riset-riset tepat guna untuk mempercanggih alat deteksi dini Karhutla.

Pendeteksi dini yang digunakan selama ini bergantung pada citra satelit yang kurang keakuratannya.

“Ketika hari-hari yang panas, area-area yang terbuka dideteksi sebagai titik panas. Misalnya, lahan konsesi hutan tanaman industri yang sedang panen, akan memantulkan panas yang lebih tinggi, sehingga dideteksi satelit sebagai titik panas. Dan ketika benar terdeteksi titik api, kebakaran sudah terlanjur meluas dan sulit dipadamkan apalagi di lahan gambut,” ujar Mitra.

Ia mengatakan pihaknya sudah pernah ditawari oleh beberapa perusahaan peranti pendeteksi yang terdiri dari tiga kamera pendeteksi. Alat itu sebenarnya sederhana, ada tiga kamera terdiri dari kamera infra merah, kamera pemantau panas, dan kamera biasa yang bisa berputar 360 derajat.

Ketika terdeteksi kebakaran dalam skala kecil sudah bisa diketahui titik koordinatnya dan keakuratannya untuk tim pemadam kebakaran bisa langsung ke lokasi kejadian. Namun, alat itu sangat mahal yakni sekitar Rp2,5 miliar sehingga sulit untuk dibiayai dari anggaran Pemprov Riau.

“Kita sih harapkannya ada Universitas Riau bisa mengembangkannya dan ini butuh dukungan dari pemerintah pusat, dan BRG karena ada anggaran yang besar di sana,” katanya. (ant)