PONTIANAK (Bisnis Jakarta) – Untuk meningkatkan daya saing usaha mikro kecil, menengah dan koperasi, serta meningkatkan penghidupan berkelanjutan berbasis usaha mikro, Kementerian Koperasi dan UKM menggelar pelatihan peningkatan kapasitas SDM di Kalimantan Barat. “Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pertumbuhan wirausaha baru, memberikan pengetahuan tentang perkoperasian kepada PPKL dan masyarakat strategis, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para wirausaha baru di bidang teknologi informasi”, kata Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Prakoso BS pada acara pembukaan Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM KUMKM di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (23/2).

Di depan peserta pelatihan sebanyak 260 orang, Prakoso menyebutkan bahwa pelatihan ini juga untuk memberikan pengetahuan kepada Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tentang azas-azas koperasi dan benefitnya. yang tak kalah penting juga adalah memberikan pengetahuan dan wawasan peserta tentang pentingnya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang sudah disertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). “Kita juga akan mensosialisasikan change of mind atau merubah mindset pemuda dan masyarakat dari job seeker (pencari kerja) menjadi job creater (pencipta lapangan pekerjaan)”, kata Prakoso.

Oleh karena itu, kata Prakoso, dalam pelatihan itu akan diberikan pengetahuan dan wawasan peserta tentang langkah-langkah dalam berwirausaha. “Memotivasi para peserta untuk terus memiliki jiwa kewirausahaan yaitu adanya kreativitas dan Inovasi serta “risk taker” dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara untuk mencapai kemandirian dalam perekonomian nasional”, imbuh Prakoso lagi.

Prakoso berharap setelah selesai mengikuti pelatihan ini para peserta bisa meningkatkan jiwa kewirausahaan atau “spirit of Entrepreneurship” sebagai “way of life” khususnya bagi peserta pelatihan dan masyarakat Indonesia secara umum. Dapat mengaplikasikan teori yang disampaikan instruktur yang salah satunya tentang Teknik Menyusun Rencana Usaha agar peserta lebih feasible dan bankable dalam mengakses sumber permodalan dalam pengembangan usahanya.”Saya juga berharap peserta termotivasi dan memiliki inspirasi dalam mengembangkan usahanya”, tandas Prakoso.

Sedangkan untuk peserta dari kalangan pengurus koperasi, diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya dalam pengelolaan koperasi, di samping peserta dapat meningkatkan keterampilan dan profesionalitas di bidangnya. “Lembaga Keuangan Mikro yang dikelola berdasarkan azas koperasi dapat maju dan berkembang sejajar dengan lembaga keuangan lainnya”, kata Prakoso.

Sehingga, kata Prakoso, hal itu berdampak terhadap meningkatnya jumlah UMKM yang naik kelas , usaha mikro menjadi usaha kecil, usaha kecil menjadi usaha menengah dan seterusnya. “Juga menurunkan jumlah idle job (angka pengangguran) dan angka kemiskinan. Termasuk mengkampanyekan azas-azas koperasi sebagai true of ekonomi kerakyatan”, tukas Prakoso.

Menurut Prakoso, ada delapan jenis pelatihan yang diberikan. Diantaranya, pelatihan perkoperasian bagi masyarakat strategis, pelatihan bagi pengelola LKM berbasis kompetensi, pelatihan manajemen SDM KUKM berbasis kompetensi bagi juru buku koperasi, pelatihan kewirausahaan melalui GKN bagi pemuda dan mahasiswa, pelatihan kewirausahaan melalui GKN berbasis gender, pelatihan vokasional keterampilan teknis bagi SDM KUMKM, pelatihan peningkatan pemahaman perkoperasian bagi PPKL, hingga pelatihan vokasional berbasis e-Commerce. (son)