JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso mengingatkan jajaran PT Angkasa Pura 1 sebagai pengelola Bandara Internasional Ngurah Rai untuk melakukan pengerjaan perluasan apron dan beberapa penambahan fasilitas lain di bandara tersebut sesuai dengan target, baik waktu maupun kuantitas dan kualitas.

Hal ini mengingat perluasan apron tersebut sangat diperlukan untuk dapat memberikan pelayanan yang baik dalam hal keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan kepada para tamu negara yang akan datang mengikuti pertemuan International Monetery Fund (IMF) Annual Meeting pada 8-14 Oktober 2018 mendatang.

Acara tersebut diperkirakan akan diikuti oleh 23 kepala negara dan 17.000 delegasi dari 189 negara. “IMF Annual Meeting itu merupakan kegiatan internasional yang sangat besar dan prestisius. Sebagai tuan rumah, tentu kita harus mempersiapkan penyambutan dan memberikan pelayanan yang maksimal dalam segala hal, termasuk yang terkait keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan,” ujar Agus Santoso.

Menurutnya, jika sebagai tuan rumah Indonesia bisa memberikan pelayanan yang maksimal, hal tersebut bisa membawa dampak yang positif bagi bangsa dan negara. Di antaranya akan lebih menumbuhkan kepercayaan dari negara-negara tersebut kepada Indonesia dan pada akhirnya bisa meningkatkan arus investasi internasional ke Indonesia sehingga perekonomian Indonesia juga semakin meningkat.

Sebagai regulator penerbangan, Agus pada minggu lalu melakukan pengecekan lapangan langsung ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali. Selain mengecek persiapan perluasan apron, Agus juga melakukan pengecekan stasiun PKP-PK serta hanggar kargo yang baru. Dari hasil pengecekan tersebut, Agus berkesimpulan bahwa pengerjaan proyek-proyek tersebut perlu dipercepat sehingga selesai tepat waktu.

“Untuk memastikan pengerjaan fisik segera dikerjakan, saya turun langsung untuk melakukan pengecekan. Saya minta pengerjaannya dipercepat karena waktu acaranya juga semakin dekat. Namun demikian, saya ingatkan juga bahwa dari segi kualitas proyek tersebut jangan sampai dikorbankan. Karena dalam penerbangan itu, semua harus presisi sesuai dengan aturan-aturan keselamatan penerbangan internasional dan nasional,” tegas Agus.

Hal-hal yang menjadi penghambat pembangunan, harus diselesaikan secepatnya tanpa merugikan pihak lain. Untuk itu diharapkan pengelola bandara melakukan kerjasama yang lebih baik lagi dengan berbagai pihak untuk mensukseskan pengembangan beberapa fasilitas di bandara tersebut.

Terkait dengan acara IMF Annual Meeting 2018 ini, Bandara Internasional Ngurah Rai memang akan melakukan penambahan beberapa fasilitas. Hal ini mengingat fasilitas fisik dan non fisik yang ada tidak akan mencukupi bila dipakai untuk memberikan layanan yang maksimal kepada para delegasi.

Fasilitas fisik yang akan ditambah di antaranya adalah 2 rapid exit taxiway, 11 parking stand di apron utara, 11 parking stand di apron selatan, 40 unit check in counter internasional dan gedung parkir 5 lantai untuk 748 unit kendaraan.

Sedangkan fasilitas non fisik yang akan dikembangkan adalah jam operasional bandara yang akan diperpanjang menjadi 24 jam serta kapasitas runway ditambah dari 27 pergerakan per jam menjadi 31 pergerakan per jam.

Semua pengerjaan proyek fisik dan non fisik tersebut diharapkan selesai dalam kurun waktu Juli sampai dengan Oktober 2018. (son)