Wall Street Berakhir Naik Karena Imbal Hasil Obligasi AS Turun

Wall Street (Jalan Wall) adalah sebuah nama jalan di pinggiran kota Manhattan di New York yang membujur mulai dari timur yaitu dari Broadway menuruni lembah ke arah South Street di East River, melewati pusat historis dari distrik keuangan Amerika yaitu Manhattan. Wall Street adalah gedung permanen pertama dari New York Stock Exchange, dan sepanjang waktu Wall Street menjadi nama dari gegografi sekitarnya.

New York, 27/2 (Bisnis Jakarta) – Wall Street berakhir naik pada Senin (Selasa pagi WIB), mengembalikan sebagian besar kerugian dalam aksi jual awal bulan ini, karena penurunan imbal hasil obligasi AS meredakan kekhawatiran investor tentang kenaikan suku bunga dan perhatian fokus kembali pada pertumbuhan ekonomi.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 399,28 poin atau 1,58 persen menjadi ditutup pada 25.709,27 poin. Indeks S&P 500 meningkat 32,30 poin atau 1,18 persen menjadi berakhir di 2.779,60 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup bertambah 84,07 poin atau 1,15 persen menjadi 7.421,46 poin.

Pada pembacaan terakhir, imbal hasil (yield) obligasi 10-tahun pemerintah AS yang dijadikan acuan, diperdagangkan pada 2,837 persen, di bawah level tertinggi 2,956 persen pada Rabu (21/2) lalu. Imbal hasil stabil sedikit di bawah tingkat psikologis penting 3,00 persen selama beberapa minggu terakhir, memberikan saham-saham beberapa ruang bernapas.

Saham-saham AS telah mengikuti perkembangan terbaru dari Federal Reserve, mencari petunjuk tentang laju kenaikan suku bunga.

Pada Jumat (23/2), bank sentral mengeluarkan sebuah laporan kebijakan moneter yang mengatakan bahwa ia diperkirakan akan melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap tahun ini dengan harapan prospek ekonomi lebih kuat.

Meskipun terjadi gejolak pasar baru-baru ini, The Fed masih menganggap bahwa kerentanan keseluruhan di sistem keuangan AS tetap seimbang.

Pada Selasa pagi waktu setempat, Ketua Federal Reserve baru Jerome Powell akan mempresentasikan kesaksian Kongres pertamanya, yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai langkah pengetatan moneter AS di masa depan.

Di sisi ekonomi, penjualan rumah keluarga tunggal baru turun untuk bulan kedua berturut-turut di Januari, kata Departemen Perdagangan pada Senin (26/2).

Menurut departemen, penjualan rumah baru turun 7,8 persen ke tingkat tahunan disesuaikan secara musiman 593.000 unit pada bulan lalu, tingkat terendah sejak Agustus 2017.

Kecepatan penjualan Desember direvisi naik menjadi 643.000 unit dari 625.000 unit yang dilaporkan sebelumnya.

Untuk perusahaan Tiongkok yang tercatat di Amerika Serikat, saham raksasa e-commerce Alibaba naik 0,47 persen menjadi menetap pada 194,17 dolar AS, sementara saham perusahaan teknologi lainnya, Baidu, meningkat 2,2 persen menjadi ditutup pada 256,25 dolar AS.(ant)