TANGSEL (Bisnis Jakarta) – Olah raga dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk mendatangkan wisatawan di Indonesia. Pendapat ini dikemukakan Wakil Ketua Tim Percepatan Wisata Olah Raga Kementerian Pariwisata, Aranyaka Dananjaya Axioma di sesi talkshow  acara Eventnesia 2018 yang diselenggarakan Program S1 Event Universitas Prasetiya Mulya, di Kampus BSD, Tangerang Selatan, 23 Februari 2018.

Dalam acara olah raga besar seperti Asian Games, menurut Aranyaka, ada wisata alam dan wisata buatan yang bisa ditonjolkan selain olah raganya sendiri. Wisata alam terjadi ketika pengunjung baik atlit peserta maupun penonton menikmati alam sekitar tempat diselenggarakannya berbagai pertandingan olah raga. Sedang wisata buatannya terjadi ketika berbagai kebudayaan lokal diangkat dalam peristiwa olah raga itu. Di Asian Games misalnya, dipertandingkan Pencak Silat, yang merupakan kekayaan olah raga lokal. “Semua itu dalam sudut pandang Kemenpar adalah sarana untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya,” kata Aranyaka.

Di bagian lain, Staf Ahli Bidang Politik Kemenpora Yuni Poerwanti, menambahkan, olah raga dapat menjadi mesin kedua perekonomian Indonesia asal dikelola dengan sungguh-sungguh. “Olah raga itu kan aktivitas yang dilakukan oleh bangsa di seluruh dunia, tak terkecuali oleh bangsa Indonesia, dan sudah diatur dalam UU No.3 Tahun 2005 bahwa tidak ada satu manusia pun yang tidak bisa menikmati olah raga, baik layanannya, ikut memelihara sarana-sarananya, industri olah raganya, sampai ke sport tourism, dan sebagainya,” jelas Yuni.

Olah raga menurutnya bisa menjadi sarana alat promosi, antara lain dalam dunia pendidikan, kesehatan, perdamaian dan pariwisata. “Dalam UU olah raga itu ada 3 lingkup yang dinyatakan. Olah raga untuk pendidikan, karena di dunia pendidikan itu bukan hanya olah pikir, tapi juga ada psikomotor, olah fisik. Yang kedua, olah raga untuk rekreasi, penting sekali, lalu dari pembudayaan yang berasal dari rekreasi menuju prestasi. Dan yang ketiga, tentu saja olah raga untuk prestasi, untuk gengsinya sebuah negara, untuk martabat bangsa. Kita semua tentu harus memperhitungkan, memperjuangkan sport tourism. Ini salah salatu promosi kepada bangsa lain. Dan di sini yang paling penting,  bagaimana kita mengelola, mempersiapkan, mengemas keberlanjutannya olah raga sebagai wisata ini”, jelasnya.

Pengajar program studi event management di Universitas Prasetiya Mulya, Irman Jayawardhana, berpendapat saat ini para pelaku industri event dan beberapa pemerintah daerah di Indonesia mulai banyak memberi perhatian pada wisata olah raga.

“Kita angkat tema sport tourism ini karena menurut kami sekarang ini daerah-daerah dan pelaku industri event mulai banyak membawa tema ini dan berhasil menjadikan sport ini sebagai agenda wisata mereka. Kita bisa ambil contoh, Tour de Singkarak, Jakarta Marathon, dan puncaknya sekarang ini, kita ditunjuk untuk menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Jadi olah raga ini menjadi concern  pemerintah dan kita semua untuk bisa mendongkrak pariwisata,” ujarar Irman.

 “Kami dari akademisi, dengan demikian, dalam Eventnesia 2018 ini mau merangkul berbagai pemangku kepentingan di dunia event khususnya, dan pariwisata pada umumnya. Catatan yang menjadi penting sebenarnya dari semua itu adalah bagaimana para pemangku kepentingan dapat bersama-sama meningkatkan kunjungan pariwisatan,” tambah Irman mengungkap tujuan acara yang dihadiri berbagai akademisi, pelaku industri wisata dan olah raga, dan dua narasumber lain dari INAGOC, Erick Thohir, dan Ketua Harian Indonesia e-Sport Association William Tjahyadi.

Irman berpendapat, olah raga sebagai industri sebenarnya bisa dipandang sebagai baik media, untuk memperkenalkan destinasi wisata, maupun daya tarik itu sendiri yang memang menarik untuk diperpertunjukan.

“Yang fokus, yang kita lihat sekarang kan pada umumnya masih menjadikan olah raga sebagai media, seperti Tour de Singkarak atau Jakarta Marathon misalnya, itu bukan olah raga budaya, tapi umum, tapi digunakan untuk memperkenalkan destinasi wisata. Padahal, kita punya olah raga-olah raga dari budaya lokal yang bisa menjadi daya tarik wisata tersendiri, seperti Lompat Batu Nias, Karapan Sapi di Banyuwangi,” ujarnya.

Sayangnya, selama ini banyak pendapat yang menganggap kalau yang berbau budaya artinya cenderung ke arah sosial yang kurang bernilai ekonomis. “Padahal sebenarnya banyak acara-acara budaya, misalnya seperti yang rutin dilakukan di Prambadan atau kegiatan olah raga komunitas di Bandung, yang sudah membangun bisnis dengan event itu. Intinya sebenarnya adalah sustainable dan dibangun dari bawah, bukan top down yang tergantung dari kepala daerahnya sehingga kalau pemimpinnya ganti kegiatan itu hilang,” kritiknya.

Manajer Program Studi S1 Event Universitas Prasetiya Mulya Peni Zulandari menambahkan, kegiatan yang sudah menjadi budaya justru seharusnya dikembangkan menjadi event yang bagus dan bernilai ekonomi tinggi.

“Yang sudah menjadi budaya itu kan justru yang dilakukan rutin, terus-menerus, tidak akan punah karena dijaga adat yang turun-temurun. Jadi itu justru yang harus dikembangkan untuk dapat menarik sebanyak-banyaknya wisatawan. Kan kalau ritual itu biasanya tahunan, seperti Perang di Sumba atau Karapan Sapi di Jawa Timur, kalau dijadikan kegiatan olah raga yang lebih sering lagi, kan akan menjadi sesuatu yang menarik lebih banyak lagi. Bisa seminggu dua atau tiga kali seperti Sendra Tari Ramayana-Sinta di Prambanan itu,” kata Peni.

Eventnesia merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan Program Studi S1 Event Universitas Prasetiya Mulya yang bertujuan mewadahi para pemangku kepentingan di industri pariwisata dalam membangun, mengembangkan dan memajukan dunia pariwisata pada umumnya dan industri event pada khususnya. (grd)