Pemulung mencari sampah plastik di TPA Sampah Sumur Batu, Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (29/4). Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) bersama pemerintah terus menekan angka kemiskinan dengan program Keluarga Harapan (PKH), mendorong pembangunan dan mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM).ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak/ss/pd/14

Sukabumi ( Bisnis Jakarta ) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi, Jawa Barat, mencatat rata-rata setiap harinya produksi sampah dari masyarakat, baik rumah tangga, pasar dan lain-lain mencapai 165 ton.

“Dari 165 ton tersebut sebanyak 65 ton masuk ke bank sampah untuk diolah kembali atau daur ulang dan 100n ton lagi masuk ke tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) Cikundul, Kecamatan Lembursitu,” kata Kepala DLH Kota Sukabumi Adil Budiman di Sukabumi, Rabu.

Jenis sampah yang dihasilkan dari masyarakat mayoritas atau sekitar 60 persennya adalah sampah organik, sisanya anorganik dan limbah lainnya.

Adapun waktu pengangkutan sampah dibagi menjadi tiga shift, yakni pukul 05.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB, kemudian pukul 11.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, dan shift terakhir dari pukul 17.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB.

Tingginya volume sampah tersebut memang menjadi permasalahan saat ini sebab TPSA Cikundul yang menampung sampah dari berbagai daerah di Kota Sukabumi lahannya tersisa tinggal 1,5 hektare lagi atau hanya mampu menampung hingga dua tahun ke depan.

Untuk total luas TPSA Cikundul hanya 10 hektare dan itu pun sudah digunakan sejak 1995 lalu dan idealnya TPSA di Kota Sukabumi 20-30 hektare.

Maka dari itu, katanya, untuk mengurangi beban TPSA dalam menampung sampah, pihaknya juga mempunyai program, yakni daur ulang untuk dijadikan barang berharga dan bermanfaat.

“Progam kami saat ini untuk mengurangi sampah yakni melalui bank sampah dan daur ulang seperti menjadikan sampah organik menjadi pupuk kompos, bahan bakar dan lain-lain. Sementara untuk sampah plastik, kaca atau nonorganik dimanfaatkan menjadi barang daur ulang seperti kerajinan tangan, tas dan lain-lain sehingga mempunyai nilai ekonomi,” tambahnya.

Adil mengatakan perlu adanya kesadaran dari masyarakat untuk mengurangi volume sampah seperti memanfaatkan sampah itu menjadi barang bernilai ekonomi.

Di sisi lain, warga pun agar terbiasa membuang sampah pada tempatnya jangan sampah dibuang ke sungai atau sembarangan. Sebab sampah juga merupakan salah satu penyebab terjadinya bencana alam seperti banjir dan juga biang dari penyakit.(ant)