Wall Street Berakhir Turun Tajam Di Tengah Kesaksian Powell

Wall Street (Jalan Wall) adalah sebuah nama jalan di pinggiran kota Manhattan di New York yang membujur mulai dari timur yaitu dari Broadway menuruni lembah ke arah South Street di East River, melewati pusat historis dari distrik keuangan Amerika yaitu Manhattan. Wall Street adalah gedung permanen pertama dari New York Stock Exchange, dan sepanjang waktu Wall Street menjadi nama dari gegografi sekitarnya.

New York, 28/2 (Bisnis Jakarta) – Saham-saham AS berakhir lebih rendah pada Selasa (Rabu pagi WIB), mencatat penurunan terbesar harian sejak aksi jual tiga minggu lalu, karena pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell membangkitkan kembali kekhawatiran lebih banyak kenaikan suku bunga daripada yang diperkirakan tahun ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 299,24 poin atau 1,16 persen menjadi ditutup di 25.410,03 poin. Indeks S&P 500 mengalami penurunan 35,32 poin atau 1,27 persen menjadi berakhir di 2.744,28 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup berkurang 91,11 poin atau 1,23 persen menjadi 7.330,35 poin.

Powell mengatakan dalam kesaksian kebijakan moneter pertamanya pada Selasa (27/2) bahwa meskipun terjadi volatilitas di pasar saham baru-baru ini, gubernur Fed masih berencana untuk menaikkan suku bunga beberapa kali sepanjang 2018.

Dia mengatakan kepada para anggota parlemen “pengurangan secara bertahap kebijakan moneter akomodatif akan menopang pasar tenaga kerja yang kuat sambil mendorong kembalinya inflasi menjadi dua persen.” Ketua baru The Fed tersebut mengisyaratkan bank sentral bisa menaikkan suku bunga lebih dari tiga kali tahun ini, jika data ekonomi dan inflasi terus terbukti sehat.

Menurut risalah pertemuan kebijakan Fed pada 30 dan 31 Januari, para pejabat Fed telah menjadi lebih percaya diri tentang prospek pertumbuhan dan inflasi. The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya tahun ini pada pertemuan kebijakan berikutnya pada Maret.

Di sisi ekonomi, pesanan baru AS untuk barang tahan lama manufaktur pada Januari turun 9,2 miliar dolar AS, atau 3,7 persen, menjadi 239,7 miliar dolar AS, lebih buruk dari konsensus pasar mengalami penurunan 2,00 persen, Departemen Perdagangan mengatakan pada Selasa (27/2).

Dalam sebuah laporan terpisah, departemen tersebut mengumumkan bahwa defisit perdagangan internasional pada barang mencapai 74,4 miliar dolar AS pada Januari, naik 2,1 miliar dolar dari angka Desember. (ant)