PDIP Pastikan Empat Variabel Tentukan Cawapres Jokowi

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait mengungkapkan ada empat variabel yang akan menjadi pertimbangan partainya mengusung calon wakil presiden pendamping Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilihan Presiden 2019.

“Satu, kalau Jokowi elektabilitasnya tidak aman, maka yang meningkatkan suara tentu jadi pertimbangan. Karena dalam politik, menang itu penting. Kalau elektabilitas Jokowi tidak aman jelang pemilihan, maka pertimbangannya elektabilitas,” kata Maruarar dalam diskusi Populi Center, di Jakarta, Rabu (28/2).

Variabel kedua adalah kenyamanan. Pertimbangan ini adalah kebalikannya yaitu jika elektabilitas Jokowi justru sangat tinggi. Dia mencontoh, ketika elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk pencalonanannya kembali pada Pilpres 2009 tinggi, maka saat itu SBY memilih pendampingnya sesuai dengan kenyamanan dirinya bukan pada elektabilitasnya.
Pertimbangan ini juga kemungkinan akan diambil Jokowi untuk periode kedua kepemimpinannya, jika elektabilitasnya sangat tinggi sehingga pertimbangan memilih pendamping lebih disesuaikan pada kedekatan dan kecocokannya dengan pasangan, bukan melihat elektabilitas cawapresnya. “Kalau elektabilitas Jokowi tinggi sekali, maka akan memilih cawapres berdasarkan kenyamanan. Ketiga dan yang paling ideal gabungan antara kenyamanan dan nilai tambah terhadap elektabilitas,” terangnya.

Variabel ketiga adalah gabungan dari elektabilitas yang tinggi dan juga faktor kenyamanan. “Yang paling ideal gabungan antara kenyamanan dan nilai tambah terhadap elektabilitas,” imbuhnya.

Variabel terakhir atau keempat adalah berdasarkan persamaan persamaan visi, misi dan program cawapresnya. Jokowi dan PDIP akan memilih sosok yang bisa melanjutkan kepemimpinannya di 2024. Hal itu agar program pembangunan Jokowi tidak terputus.

Sebagai presiden, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDIP ini meyakini Jokowi akan melihat pada bagaimana pemerintah pasca 2024 atau setelah tak lagi menjabat sebagai presiden. Jokoko dinilai akan membangun pondasi yang program penekannya pada bidang infrastruktur, makro dan mikro ekonomi.

“Tentu Jokowi berkepentingan apa yang dia bangun bisa berkelanjutan. Karena pasti tidak tuntas. Jadi apakah Jokowi memilih wakil hanya sebagai wakilnya saja, atau memilih wakil yang menjadi presiden pada 2024. Itu dua hal berbeda sama sekali. Itu manusiawi menurut saya. Bagaimana visi misi itu bisa berkelanjutan dan berkesinambungan,” tandasnya. (har)