Peneliti : Penyakit Schistosomiasis Bukan dari Makanan

PALU (Bisnis Jakarta) – Seorang peneliti muda dari Balai Litbang Pengendalian Penyakt Bersumber Binatang (P2B2) Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah Yunus Widjaja mengatakan sumber penyakit schistosomiasis bukan dari makanan. “Sumber penyakit yang dikenal dengan istilah “demam keong” itu sumbernya adalah cacing schistosma jamponium,” katanya di Palu, Kamis.

Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir jika mengkonsumsi daging atau ikan yang berasal dari Dataran Lindu, Kabupaten Sigi atau dari Dataran Napu dan Bada di Kabupaten Poso.

Selama ini, tiga dataran itu merupakan wilayah endemik keong schistosoma jamponium. Wilayah-wilayah itu berada di sekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Masyarakat, kata dia, tidak perlu takut makan daging atau ikan yang berasal dari daerah itu, karena penyakit kuno yang hanya ada di tiga negara yakni Jepang, China dan Indonesia dan hanya ada di kawasan TNLL bersumber dari cacing schistosoma jamponium, bukan makanan. “Sama sekali bukan dari makanan, tetapi cacing schistosoma,” tegasnya.

Informasi yang berkembang saat ini di masyarakat, bahwa penyakit tersebut berasal dari binatang seperti kerbau, anjing, sapi, kuda atau ikan.Akibatnya, orang menjadi takut jika mengkonsumsi daging kerbau atau ikan dari Danau Lindu karena beredar kabar bahwa penyakit demam keong berasal dari ternak atau ikan. “Silahkan konsumsi daging atau ikan, dipastikan aman,” kata dia.

Beberapa waktu lalu, kata Yunus, pihaknya bersama Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu kembali melakukan survei fokus keong schistosoma di dalam kawasan TNLL. Selama ini, survei-survei keong hanya di sekitar kawasan TNLL, tetapi kali ini masuk dalam kawasan. Khusus di Dataran Lindu, kata dia, berdasarkan hasil survei Litbang P2B2 Kabupaten Donggala bersama pihak Balai Besar TNLL terdapat 32 titik sebaran keong beracun tersebut.

Sebaran keong meliputi lima desa di Dataran Lindu yakni Desa Olu, Ancna, Tomado, Langko dan Puro’o. Semua fokus akan mendapatkan penanganan serius dari pemerintah pusat dan daerah. Pemberantasan akan dilakukan secara terpadu semua pihak terkait.

Gubernur Sulteng, Longki Djanggola telah membentuk tim terpadu pengendalian dan pemberantasan penyakit schistosomiasis di Dataran Lindu, Napu dan Bada, wilayah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Lore Lindu. Taman Nasional Lore Lindu sendiri ditetapkan sebagai cagar beosfer oleh UNESCO pada 1977. Luas kawasan TNLL berdasarkan data yang ada sekitar 217.000 hektare tersebar sebagian besar di wilayah administrasi Kabupaten Sigi dan sebagian lagi Kabupaten Poso. (ant)