Wall Street Mundur Lebih Lanjut Di Tengah Laporan PDB

Wall Street (Jalan Wall) adalah sebuah nama jalan di pinggiran kota Manhattan di New York yang membujur mulai dari timur yaitu dari Broadway menuruni lembah ke arah South Street di East River, melewati pusat historis dari distrik keuangan Amerika yaitu Manhattan. Wall Street adalah gedung permanen pertama dari New York Stock Exchange, dan sepanjang waktu Wall Street menjadi nama dari gegografi sekitarnya.

New York, 1/3 (Bisnis Jakarta) – Saham-saham di Wall Street membalikkan kenaikan awal menjadi ditutup lebih rendah pada perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena para investor mencerna data pertumbuhan ekonomi AS yang baru dirilis.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 380,83 poin atau 1,50 persen menjadi berakhir di 25.029,20 poin. Indeks S&P 500 mengalami penurunan 30,45 poin atau 1,11 persen menjadi ditutup pada 2.713,83 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 57,35 poin atau 0,78 persen menjadi berakhir di 7.273,01 poin.

Produk Domestik Bruto (PDB) AS meningkat pada tingkat tahunan sebesar 2,5 persen pada kuartal keempat 2017, sesuai dengan konsensus pasar, menurut perkiraan kedua yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan pada Rabu (28/2). Pada kuartal ketiga, PDB riil meningkat 3,2 persen.

PDB riil AS meningkat 2,3 persen pada 2017, yang terutama mencerminkan kontribusi positif dari pengeluaran konsumsi pribadi, investasi tetap non-residensial, dan ekspor, kata departemen tersebut.

Pada berita ekonomi lainnya, setelah melihat kenaikan moderat dalam tiga bulan, penjualan “pending home” (rumah yang pengurusannya belum selesai atau tertunda) didinginkan pada Januari ke level terendah dalam tiga tahun, menurut National Association of Realtors, Rabu (28/2).

Indeks Penjualan Pending Home turun 4,7 persen menjadi 104,6 pada Januari dari direvisi turun 109,8 pada Desember 2017, gagal memenuhi ekspektasi pasar.

Sementara itu, para investor masih memilah-milah kesaksian dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Powell mengatakan dalam kesaksian kebijakan moneter pertamanya pada Selasa (27/2) bahwa meskipun terjadi volatilitas di pasar saham baru-baru ini, gubernur Fed masih berencana untuk menaikkan suku bunga beberapa kali sepanjang 2018.

Ketua baru Fed tersebut mengisyaratkan bank sentral bisa menaikkan suku bunga lebih dari tiga kali tahun ini jika data ekonomi dan inflasi terus terbukti sehat. (ant)