24 Perupa Pameran “Abstract Party” di Borobudur

BOROBUDUR (Bisnis Jakarta) – Sebanyak 24 perupa menggelar pameran bertajuk “Abstract Party” di Limanjawi Art House kawasan Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah selama 11 Maret-10 April 2018, sebagai agenda tahunan keempat kalinya, “Borobudur Today”, galeri seni rupa itu. “Untuk ‘Borobudur Today 2018’ ini karya-karya abstrak berupa lukisan dan patung dari para perupa dipamerkan,” kata pengelola Limanjawi Art House Borobudur Umar Chusaeni di sela persiapan galerinya untuk pameran tersebut di Borobudur, Rabu.

Pembukaan pameran yang juga ditandai dengan kirab budaya dan pementasan beberapa kesenian akan dilakukan pada Minggu (11/3) oleh pemilik OHD Museum Kota Magelang Oei Hong Djien. Ia menyebut perkembangan seni rupa Indonesia, terutama lukisan, sudah mengarah kepada ide dan inspirasi yang lebih mendalam para senimannya sehingga melahirkan karya abstrak.

Selain itu, ujar Umar yang juga Koordinator Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) 15 itu, pasar seni lukis mulai menggeliat kepada karya-karya yang mengangkat dunia abstrak. “Karya-karya abstrak dinikmati sebagai keindahan oleh para penggemar seni rupa dari sudut pandang yang subjektif,” katanya.

Ia menyebut karya abstrak memiliki ruang tersendiri dalam dunia seni rupa. Karya abstrak sebagai suatu capaian para senimannya setelah mengarungi karya-karya sebelumnya seperti berupa realis, surealis, dan dekoratif. “Bukan sekadar ‘ureg-ureg’ (sembarangan melukis, red.) tetapi karya abstrak memiliki konsep tersendiri,” ujar dia.

Ia menjelaskan tentang tataran makna di Candi Borobudur, yakni kamadatu, rupadatu, dan arupadatu, di mana tingkatan arupadatu (tertinggi) memberikan inspirasi kuat untuk seniman melahirkan karya abstrak. “Rupadatu itu dunia abstrak, tidak berbentuk, namun maknanya dalam,” katanya.

Ia mencontohkan tentang karya pelukis Borobudur Deddy PAW berjudul “Self Control” tentang air yang juga akan dipamerkan mendatang. “Deddy PAW, hidupnya seperti air mengalir, mencerminkan pribadinya,” katanya. Selain itu, katanya, karya Januri berjudul “White Line” berupa garis putih sebagai ungkapan kegelisahan batinnya. “Berupa garis-garis putih. Spiritualitas hidupnya,” katanya.

Para seniman yang pameran bersama itu, adalah Adi Wirawan, Agus “Baqul” Purnomo, Akmal Jaya, Basrizal Al Bara, Budi Ubrux, Dedy Sufriadi, Deddy PAW, Deskhairi, Edi Sunaryo, Heri Kris, Januri, Joko “Gundul” Sulistiono, Kexin Zhang, Mola, Nasirun, Nguyen Ngoc Dan, Pini Fe, Pupuk D.P., Riduan, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Utoyo Hadi, Wini Dwi Laksono, Yasumi Ishii, dan Yoga Wantoro.

Mereka antara lain berasal dari Bali, Yogyakarta, Magelang, Bandung, Padang, Vietnam, Jepang, dan China. Sebanyak 22 lukisan dan lima patung dipamerkan pada kesempatan tersebut.

Pembukan pameran antara lain ditandai dengan kirab budaya sedikitnya 50 seniman beberapa tarian tradisional Magelang dari Candi Pawon menuju Limanjawi Art House di Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, monolog dan tari berjudul “Datang Dara Hilang Dara”, dan pentas musik. (ant)