Pemerintah Perlu Melepaskan Ketergantungan Konsumsi Beras

Jakarta (Bisnis Jakarta) – Pemerintah perlu melepaskan ketergantungan konsumsi masyarakat terhadap beras untuk mengatasi permasalahan ketahanan pangan di Tanah Air, kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Rosan Roeslani.

“Program diversifikasi pangan harus lebih ditingkatkan, mengingat Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sumber-sumber karbohidrat selain beras, seperti jagung, sorgum, kentang, sagu, dan umbi-umbian,” kata Rosan dalam rilis, Jumat.

Menurut dia, untuk menunjang program diversifikasi tersebut perlu ditetapkan kluster komoditas terkait dimana untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan ketersediaan lahan yang memadai.

Ia menyakini bahwa Indonesia akan mampu berswasembada dan menciptakan ketahanan pangan, bahkan mampu menjadi pemasok kebutuhan dan lumbung pangan dunia apabila tidak terkendala ketersediaan lahan.

Sebagaimana diwartakan, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memuji capaian Pemerintah RI di sektor pertanian terutama pada pelaksanaan program asuransi pertanian dan sistem informasi pemantauan pertanian.

Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Jumat, menyebutkan pujian itu disampaikan Asisten Dirjen FAO/Kepala FAO Regional Bangkok (ADG FAO Bangkok) Kundhavi Kadiresan kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat melakukan pertemuan di sela-sela “The Fourth Jakarta Food Security Summit” (JFSS-4) di Jakarta Convention Center Senayan.

Menteri Pertanian Amran dalam kesempatan itu menyampaikan capaian pembangunan pertanian melalui program upaya khusus (Upsus). Program ini mencakup semua aspek yang berperan untuk menciptakan sebuah kondisi pertanian yang sehat.

Aspek tersebut meliputi perubahan mendasar atas kebijakan-kebijakan yang menghambat pelaksanaan program, perbaikan infrastruktur, penguatan peran peran industri hilir, memperkenalkan asuransi pertanian, dan memperpendek rantai pasok komoditas pertanian.

Pada tahap pelaksanaannya, program Upsus mencakup berbagai macam terobosan yang revolusioner. Pada tahun 2017, produksi padi meningkat sebesar 10,5 juta ton gabah kering gGiling (GKG) yang setara dengan 3,23 miliar dolar AS. Kenaikan produksi tersebut juga tercatat pada 43 komoditas pertanian lainnya, termasuk bawang merah dan cabai yang nilai kumulatifnya berjumlah sekitar 27,08 miliar dolar AS.

Angka ini adalah yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Meskipun El Nino yang menghancurkan wilayah pertanian skala luas terjadi di Indonesia negara , pemerintah dan masyarakat masih dapat menjaga pasokan domestik dari beberapa komoditas pangan strategis.

Ke depan Kementerian Pertanian telah menetapkan target sebagai pemasok bahan pangan utama di dunia.

Amran optimistis target ini terwujud pada tahun 2045 dengan mempertimbangkan besarnya sumber daya di Indonesia termasuk keanekaragaman hayati dan ekosistem pertanian, luas potensi lahan subur untuk pertanian, tenaga kerja melimpah, inovasi dan teknologi tersedia, serta potensi pasar dalam negeri dan internasional yang tinggi.(ant)