ilustrasi

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa sore, bergerak menguat sebesar 11 poin menjadi Rp13.735 dibandingkan posisi sebelumnya Rp13.746 per dolar AS. Sementara Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 87,84 poin, atau 1,35 persen menjadi 6.412,84 seiring aksi ambil untung investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar. Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 18,33 poin (1,70 persen) menjadi 1.057,04.

Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo mengatakan, rupiah menguat terbatas di tengah kekhawatiran pasar terhadap kuatnya peluang The Fed untuk menaikan suku bunga pada Maret ini.

“Nillai tukar rupiah masih bergerak stabil seiring dengan adanya penjagaan dari Bank Indonesia,” ujarnya.

Namun, potensi tekanan rupiah masih terbuka mengingat bank sentral AS (The Fed) memberi sinyal kuat untuk menaikan suku bunga acuannya pada 2018 ini sebanyak tiga kali, yang dimulai pada Maret ini.

“Ketua The Fed Jerome Powell percaya dengan menikan suku bunga maka produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat akan naik, pernyataan itu memeicu aliran dana masuk ke AS sehingga akan mendorong dolar AS terapresiasi,” katanya.

Chief Market Strategist FXTM, Hussein Sayed mengatakan rupiah menguat seiring sejumlah data ekonomi Indonesia dijadwalkan akan dirilis pada pekan ini, salah satunya data neraca perdagangan Indonesia yang memberi isyarat mengenai momentum ekonomi domestik.

“Pasar optimis data impor dan ekspor melampaui ekspektasi yang akan memperkuat produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama tahun ini,” katanya.

Sementara itu, investor yang melakukan aksi ambil untung terhadap saham-saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan IHSG.

“Saham-saham dengan nilai kapitalisasi besar telah bergerak cukup tinggi pada beberapa waktu lalu, jadi wajar jika saham-saham itu mengalami koreksi,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, penilaian investor terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif cenderung masih mendatar turut memicu aksi lepas saham.

“Diharapkan pada tahun ini produk domestik bruto (PDB) 2018 bisa tumbuh lebih baik sehingga meredakan penilaian itu,” harapnya.

Sementara itu tercatat frekuensi perdagangan sebanyak 390.879 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 11,835 miliar lembar saham senilai Rp8,900 triliun. Sebanyak 108 saham naik, 241 saham menurun, dan 123 saham tidak bergerak nilainya atau stagnan.

Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei naik 144,07 poin (0,07 persen) ke 21.968,10, indeks Hang Seng menguat 7,11 poin (0,02 persen) ke 31.601,44 dan Straits Times menguat 13,54 poin (0,38 persen) ke posisi 3.553,73. (grd/ant)