JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Menpar Arief Yahya membuka sekaligus menjadi keynote speech pada acara Workshop Penyelenggaraan Event yang berlangsung di Jakarta, Senin pagi (19/3). Kegiatan workshop sehari dengan menghadirkan para praktisi penyelenggara event serta pakar pemasaran tersebut dimaksudkan sebagai coaching clinic untuk meningkatkan kualitas event yang diselenggarakan oleh pemerinah daerah (Pemda) maupun private/komunitas agar minimal penyelenggaraannya berskala nasional dan layak dijual sehingga dampaknya dapat meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia yang tahun ini mentargetkan 17 juta wisman maupun menggerakkan 270 juta wisnus di Tanah Air.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi kegiatan Workshop Penyelenggaraan Event agar kualitasnya menjadi spetakuler dan diperhitungkan, hal itu sebagaimana amanat Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika menyaksikan Jember Fashion Carnaval di Kota Jember, Jawa Timur pada tahun 2017 lalu.

Presiden Jokowi kepada Menpar Arief Yahya minta agar kota-kota di Indonesia bisa memiliki festival/karnaval yang khas dan unik menjadi agenda kesenian yang diselenggarakan secara rutin; ada kalender event dan kalender tahunannya seperti Jember Fashion Carnival, ”Presiden Jokowi menegaskan bahwa keragaman budaya kita adalah sebuah kekuatan sekaligus keunggulan kita dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lainnya,” kata Menpar Arief Yahya menyampaikan pesan Presiden Jokowi.

“Presiden juga berkali-kali menegur saya ada banyak acara festival di berbagai daerah tapi belum berstandar global. Presiden minta harus berstandar dunia. Jadi penyelenggaraan event bestandar dunia ini permintaan Bapak Presiden,” kata Menpar Arief Yahya seraya mengatakan, “Dengan adanya teguran dan permintaan itu, saya menugaskan Staf Ahli Multikultural selaku Ketua Tim Pelaksana Calender of Event (CoE) 2018 Esthy Reko Astuti untuk menyelenggarakan workshop atau coaching clinic tentang bagaimana memprodusi, mengemas serta mempromosikan event yang berstandar nasional yang pada hari ini dilaksanakan”, tambah Menpar.

Menpar Arief Yahya menjelaskan tiga aspek agar kemasan event memenuhi standar nasional yakni; pertama tampilan koreografinya harus menarik dan tidak membosankan; kedua, iringan musiknya berkualitas karena melibatkan komposer/arranger profesional, dan yang tidak kalah pentingnya adalah unsur ketiga, penggunaan busana/kostum yang membuat penyaji pertunjukan tidak sulit bergerak dan enak dipandang mata.

Setelah ketiga aspek tersebut terpenuhi, oleh kurator yang ditunjuk Kemenpar, kemudian layak ditetapkan sebagai event berstandar global. Hal ini sebagaimana dalam menetapkan 100 CoE Wonderful Indonesia 2018. ”Tugas utama Kemenpar selanjutnya adalah mempromosikan event tersebut dan bagaimana strategi dan memasarkan event agar memberikan nilai (value) dari segi budaya (culture) maupun ekonomi (commercial value) yang hari ini dipaparkan oleh pakar pemasaran dari MarkPlus ,” kata Arief Yahya.

Seperti diketahui sebagai upaya untuk menarik kedatangan 17 juta wisman dan pergerakan 270 wisnus pada tahun ini, Kemenpar bersama stakeholder pariwisata yang tergabung dalam kekuatan pentahelix (akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media) menyiapkan program 100 CoE Wonderful Indonesia serta Visit Wondeful Indonesia (ViWi) melibatkan pelaku bisnis (industri) dan asosiasi pariwisata untuk menjual paket-paket wisata menarik dengan harga kompetitif hot deal atau pun bundling.

Kegiatan workshop yang dihadiri sekitar 200 peserta menghadirkan narasumber antara lain; Jacky Murrsy (pakar pemasaran sebagai Deputy CEO MarkPlus); Nalendra Pradono (MarkPlus); Dwiki Dharmawan (pakar dan praktisi musik anggota grup musik Krakatau); Dynand Fariz (perancang busana dan penggagas sekaligus Presiden Jember Fashion Carnival); Samuel Mattimena (perancang busana dan penyelenggaran event fashion show); Ndang Mawardi (CEO Inspiro Group/promotor dan MICE penyelenggara even olahraga); dan Denny Malik artis penari dan kareografer, pernah mendapat penghargaan Festival Tari Asia Pasifik. (son)