MAGELANG (Bisnis Jakarta) – Ratusan warga lereng Gunung Sumbing di Dusun Kledung Kulon, Desa Sutopati, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, melakukan prosesi ritual “Jamasan Topeng Lengger”, Sabtu, sebagai rangkaian agenda Ruwat Rawat Borobudur 2018.

Dengan berbagai pakaian kesenian tradisional dan tabuhan pengiringnya, mereka berjalan kaki sambil mengarak tandu berisi puluhan topeng, dari dusun itu menuju mata air Si Ringin. Sumber air itu berada di bawah pohon beringin ukuran besar yang oleh warga setempat diperkirakan berumur ratusan tahun.

Dari tanah lapang yang telah dihiasi sebagai properti dan instalasi panggung terbuka untuk pertunjukan berbagai pentas kesenian tradisional, mereka dilepas oleh Kepala Dusun Kledung Kulon Istomo menuju mata air Si Ringin di pinggir dusun setempat.

Seorang sesepuh warga setempat, Muhyanto memimpin prosesi ritual setiap Sabtu Legi, Bulan Jumadil Akhir, itu dengan doa secara Islami. Doa-doa yang dipanjatkan dalam kegiatan tersebut juga untuk memohon keselamatan dan kelancaran warga dalam mengolah pertanian sayuran di kawasan lereng selatan gunung yang masuk wilayah Kecamatan Kajoran itu.

Mereka yang mengikuti ritual, antara lain para penari lengger, topeng ireng, pitutur madyo, tuyulan, gedrug, kuda lumping. Para warga yang umumnya sebagai petani sayuran dan pelaku kesenian tradisional itu tergabung dalam kelompok kesenian “Wahyu Tri Turonggo Seto” Dusun Kledung Kulon, pimpinan Muhyoto (75).

Kalangan lelaki, perempuan, pemuda, pemudi, dan anak-anak dusun setempat juga mengikuti kegiatan tradisi yang mereka selenggarakan setiap tahun berdasarkan kalender Jawa itu. Muhyoto mengatakan agenda Jamasan Topeng Lereng menjadi bagian dari tradisi Merti Dusun (Bersih Desa) yang secara turun temurun dijalani masyarakat setempat.

“Selain untuk doa kelancaran dalam mengolah pertanian juga penghormatan kepada cikal bakal dusun dan pemimpin dusun setempat,” ujarnya di dampingi sejumlah tokoh warga setempat lainnya sebelum prosesi tersebut.

Ia menyebut sejumlah cikal bakal dusun setempat sebagai “Mbah Glembok, Mbah Binah, Mbah Khalil”, sedangkan pemimpin spiritual dusun pada masa lampau sebagai “Mbah Karsa Wijaya, Raden Ayu Aminah, Eyang Karsa Maduganda, Eyang Surajaya, dan Dewi Lantasari”.

“Supaya masyarakat hidup tenteram dan damai, tanaman selalu subur dan panenan melimpah, bebas dari segala bencana,” ujarnya.

Penanggung Jawab Panitia Ruwat Rawat Borobudur 2018 Sucoro mengatakan Jamasan Topeng Lengger sebagai tradisi yang terserus menerus dilestarikan oleh warga setempat dan menjadi salah satu cara mereka memperkuat semangat kebersamaan serta kekeluargaan.

Ruwat Rawat Borobudur 2018 sebagai agenda tradisi, seni, dan budaya yang diselenggarakan tahun ke-15 di Candi Borobudur dan kawasannya. Rangkaian kegiatan itu berlangsung sejak 6 Maret hingga 6 Mei 2018.

Berbagai kegiatan Ruwat Rawat Borobudur 2018, antara lain bakti sosial, pentas kesenian, dialog budaya, acara tradisi masyarakat desa di kawasan Candi Borobudur, renungan dan sarasehan budaya, festival kesenian rakyat, pameran kliping dan foto, seminar budaya dan pariwisata, loka karya seni tradisi, pentas sastra, serta kirab budaya. (ant)