SINTANG (Bisnis Jakarta) – Tidak banyak orang tahu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat memiliki banyak potensi yang bisa dijual. Selain memiliki tempat-tempat wisata yang eksotis, Kabupaten Sintang merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang memiliki hutan alami di tengah kota, selain Bogor.

Sekda Kabupaten Sintang Yoshepha Hasnah saat menerima rombongan presstour di Sintang, Kamis (22/3) mengatakan, Kabupaten Sintang merupakan kabupaten terbesar kedua di Provinsi Kalimantan Barat, setelah Kabupaten Ketapang. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia, menjadi beranda negeri di bagian utara Pulau Kalimantan bagian barat.

Untuk menuju Kabupaten Sintang, pengunjung dapat menggunakan transportasi darat dan juga udara dari Ibukota Provinsi Kalimantan Barat, yang mana dengan jalur darat dari kota Pontianak menuju Sintang membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 7 jam, sedangkan bila melalui udara membutuhkan waktu hanya sekitar 45 menit.

Bandara Tebelian yang akan menggantikan Bandara Susilo dan sebentar lagi akan diresmikan Presiden Joko Widodo dengan arsitektur modern, kata Yosepha, siap menyambut tamu yang akan bertualang menjelajahi Bumi Senentang ini.

Boleh dibilang, kata Yosepha, Kabupaten Sintang memiliki berbagai potensi yang berpeluang menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), semisal sektor wisata yang terlihat eksotis mulai dari puncak bukit hingga ke dasar sungai. Potensi wisata alam dan sejarah daerah ini tidak kalah dengan kabupaten-kabupaten lain yang ada di Provinsi Kalimantan Barat.

Setidaknya, ada enam objek wisata di Kabupaten Sintang yang wajib dikunjungi, seperti Hutan Wisata Baning, yaitu hutan yang orisinil yang terletak ditengah-tengah Kota Sintang. Dengan luas sekitar 115 hektar, merupakan hutan tropis dengan ditumbuhi ribuan pohon yang menyejukkan seisi kota.

Menurut Yosepha, Hutan Wisata Baning ini termasuk yang masih utuh. Hutan ini kaya dengan aneka ragam Flora, seperti bunga kantong semar, berbagai jenis anggrek hutan terjaga dan terawat baik bisa ditemui di sudut-sudut hutan kota ini. Sedangkan dari unsur Fauna, ditemukan berbagai jenis burung khas Kalimantan.

Kenyamanan udara segar dibawah rindangnya dedaunan akan dapat diperoleh cukup dengan berjalan kaki dari Ibukota Kabupaten, Kota Sintang.

Sementara Kadis Olahraga, Pemuda, dan Pariwisata Sintang, Hendrika menambahkan, objek wisata alam lainnya adalah Kawasan Wisata Bukit Kelam. Hutan wisata seluas 520 hektare ini memiliki banyak keunikan dan kekayaan hayati. Disamping keadaan alamnya sendiri yang potensial sebagai tempat wisata juga terdapat beberapa obyek yang dapat dinikmati, antara lain panorama alam, gejala alam seperti gua, air terjun, dan sebagainya.

Kunjungan wisata yang tak boleh dilewatkan adalah Museum Dara Juanti. Museum ini dahulu dipergunakan sebagai Istana Kerajaan Sintang. Setelah direnovasi pada tahun 1938, istana ini dijadikan museum.
Museum ini menyuguhkan tentang sejarah kerajaan Sintang dan memamerkan peninggalan raja-raja Sintang.

Untuk mencapai museum, kata Hendrika, pengunjung bisa menggunakan transportasi air. Berbagai aktivitas masyarakat di tepian sungai Kapuas, memanjakan pengunjung sebelum tiba di destinasi budaya Kabupaten Sintang ini.

Masih terkait dengan wisata budaya, kata Hendrika, Pemkab Sintang terus berupaaya merevitalisasi Museum Kapuas Raya, salah satu obyek wisata yang mesti dikunjungi. Di museum ini, pengunjung dapat melihat beraneka benda sejarah dan hasil kerajinan masyarakat Borneo Barat, khususnya produk khas Kabupaten Sintang.

Ada pula sarana wisata berupa Galery Motor Bandung, semacam perahu motor. Nantinya akan dibikin kamar-kamar untuk duduk-duduk santai, menuju Danau Sentarum yang berada di Kapuas Hulu. Selain itu, ada Rumah Betang Kobus yang tidak kalah menarik. berbagai peninggalan seni dan budaya ini memiliki keunikan masing-maaung yang sulit dijumpai di daerah lain.

Dengan dibukanya bandara Tebelian, Hendrika berharap, akan lebih banyak wisatawan yang berkunjung ke Sintang. “Kemudahan akses transportasi sangat membantu kita mempromosikan potensi wisata Kabupaten Sintang,” kata Hendrika. (son)