KENDARI (Bisnis Jakarta) – UPTD Museum dan Taman Budaya Dinas Pendiikan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) hingga kini menyimpan 10 ruang koleksi utama yang disimpan dalam gedung berlantai tiga yang sekaligus menjadi pameran yang setiap saat jadi tontonan masyarakat yang datang berkunjung.

Kepala UPTD Museum dan Budaya Dinas Pendidikan Sultra, Dody Syahrul Syah di Kendari, Sabtu mengatakan dari 10 ruang koleksi itu meliputi, ruang satu Beologika yang menyimpan benda-benda bebatuan dan replika tambang nikel, aspal dan pasir kuarsa, ruang dua Biologika menyimpan koleksi seperti aroa binatang khas Sulawesi yang diawetkan, udang/lobster (udang pasir), kura-kura dan molusca.

Kemudian di ruang tiga merupakan ruang koleksi Etnografi, yang menyimpan berbagai koleksi di antaranya kalosara, membesara (upacara adat), pakaian kulit kayu yang berasal dari Kendari, alat dan hasil tenunan Sultra, peralatan rumah tangga, dan peralatan pertanian dan berburu.

Pada ruang empat koleksi Arkeologi, yang menyimpan berbagai koleksi di antaranya replika fosil yang ditemukan di daerah Jawa, batu (peralatan manusia purba), pakaian kulit kayu, gerabah dan sebagainya. ruang lima koleksi Historika, foto-foto kesultanan kerajaan Buton, foto-foto pejuang Indonesia, dan foto-foto gubernur dan wakil gubernur.

Di ruang enam koleksi Numismatik, yang menyimpan koleksi mata uang, yang dipajang di antaranya mata uang kerajaan Gowa, Buton dan Majapahit di ruang tujuh terdapat ruang Filologika yakni koleksi, naskah lontar, bilangari, tasbih, Al-Quran tulisan tangan, naskah amarana, dan tongkat khatib.

Sementara di ruang delapan merupakan ruang keramik, koleksi keramik-keramik peninggalan dinasti cing, dinasti Ming, dinasti Cina, dinasti Yuang, dan dinasti Hua, koleksi tertua di museum ini adalah keramik Cina dari dinasti Sung pada abad XII.

Di ruang sembilan terdapat ruang koleksi kesenian tradisional di antaranya gambus, gong dan suling serta di ruang sepuluh koleksi Teknologika yang menyimpan koleksi seperti pandai besi, mesin pencetak surat kabar, teodolit, mesin telegram, alat penumbuk padi, dan alat pengolahan sagu dan benda-benda bersejarah lainnya.

Dody mengharapkan, dengan keberadaan benda-benda bersejarah yang tersimpat dalam ruang koleksi itu hendaknya menjadi perhatian dari semua pihak terutama kalangan eksekutif dan legislatif untuk penyediaan anggaran khusus dalam perawatan sehingga selalu terjaga dan terawat.

“Kondisi yang sangat memprihatinkan saat ini adalah, masih tersimpan ribuan benda-benda bersejarah yang terpaksa harus ‘digudangkan’ karena tidak adanya biaya untuk membeli obat-obat kimia untuk perawatan. Akibatnya pengunjung dari kalangan anak sekolah hingga mahasiswa hanya bisa melihat dan mengamti koleksi yang ada di gedung koleksi itu,” tutupnya. (ant)