London ( Bisnis Jakarta ) – Tottenham Hotspur mengakhiri luka 28 tahun dan mengambil langkah besar untuk dapat finis di empat besar Liga Inggris, ketika Dele Alli mengemas dua gol saat timnya menang 3-1 di markas Chelsea pada Minggu.

Belum pernah terjadi sejak Gary Lineker mencetak gol kemenangan pada 1960 di mana Tottenham mengambil tiga poin dari Stamford Bridge, dan pada 2016 harapan-harapan mereka untuk meraih gelar diakhiri oleh “Si Biru” saat ditahan imbang pada laga yang dijuluki sebagai “Battle of the Bridge.” Tim peringkat keempat Tottenham, yang tidak terkalahkan di liga sejak Desember, memulai hari dengan keunggulan lima poin dari Chelsea, dan kutukan yang familiar terlihat akan kembali terjadi ketika Alvaro Morata menghukum kesalahan Hugo Lloris untuk menanduk bola yang membawa tuan rumah memimpin.

Christian Eriksen mengecoh Willy Caballero dengan sepakannya sebelum turun minum dan Alli, yang penampilan dan temperamennnya dipertanyakan belakangan ini, mengemas dua gol dalam rentang waktu empat menit pada babak kedua.

Tampilnya Harry Kane yang kembali bugar untuk bermain sebagai pemain pengganti menambah kegembiraan para penggemar Tottenham yang akhirnya dapat melakukan perayaan di Stamford Bridge setelah 27 pertandingan liga tanpa kemenangan di sana — laju yang mencakup 18 kekalahan dan sembilan hasil imbang.

Tottenham mengoleksi 64 poin sedangkan Chelsea 56 poin dengan tujuh pertandingan tersisa. Spurs hanya tertinggal dua poin dari tim peringkat keempat Liverpool, yang memainkan satu pertandingan lebih sedikit.

“Setelah 28 tahun, penting untuk menang di sini. Ini merupakan hari yang menyenangkan bagi semuanya — para penggemar, para pemain — dan kami merasa sangat bangga,” kata manajer Tottenham Mauricio Pochetthino.

“Kami mendominasi permainan namun Chelsea mencipatakan peluang-peluang dan mencetak gol. Pada babak kedua kami tampil lebih baik dan kami layak untuk menang. Para pemain layak mendapatkan pujian karena kami memperlihatkan karakter saat tertinggal 0-1. Ini merupakan hari untuk merasa sangat bangga.” Sebelum sepak mula, para penggemar kedua belah pihak bersatu untuk mendukung mantan kapten Chelsea yang sakit serius Ray Wilkins.

Namun saat peluit telah berbunyi situasi panas berlanjut — bahkan meski pertandingan ini tidak pernah terancam untuk dimainkan dalam situasi sangat sengit.

Tottenham banyak menguasai bola namun rapuh terhadap serangan-serangan cepat Chelsea — yang memaksa Lloris melakukan dua penyelamatan dari upaya Willian dan Victor Moses.

Lloris menjadi kambing hitam untuk gol yang bersarang ke gawangnya pada menit ke-30, ketika ia gagal menangkap bola umpan silang Moses dan Morata mengukir gol ke-11nya di liga musim ini.

Selama beberapa saat Tottenham terlihat gugup, namun Eriksen menguji Caballero dengan satu tembakan menyengat sebelum menyamakan kedudukan sebelum turun minum dengan sepakan sensasional.

Moses membuang bola dan ketika bola itu jatuh ke penguasaan pemain Denmark tersebut, ia mengincar gawang dan melepaskan tembakan kaki kanan dari jarak jauh yang tidak mampu diantisipasi Caballero, yang bermain untuk menggantikan Thibaut Courtois yang cedera.

Son Heung Min menguji Caballero dengan tembakan kaki kiri melengkung setelah turun minum, namun Tottenham mampu unggul pada menit ke-62 ketika Alli, yang memainkan pertandingan Liga Inggris ke-100nya untuk klub, memaksimalkan larinya. Ia menguasai operan Eric Dier dan menembakkan bola melewati kiper Chelsea.

Alli tidak dipanggil timnas Inggris untuk pertandingan-pertandingan persahabatan melawan Belanda dan Italia, dan ia dituding banyak melakukan “diving” pada musim ini, namun ia kembali menjawab berbagai kritik empat menit kemudian.

Son menimbulkan kepanikan pada pertahanan Chelsea dan setelah dua upaya pemain Korea Selatan ini diblok, bola jatuh ke Alli yang menyentuhnya dengan ringan sebelum melepaskan tembakan.

Para penggemar Tottenham segera merayakan kemenangan ini setelah peluit panjang berbunyi, dan mereka kini akan percaya diri untuk menyaksikan sepak bola Liga Champions di kandang barunya musim depan.(ant)