Bandung ( Bisnis Jakarta ) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat fokus pada penanganan stunting atau kekerdilan pada anak yakni program pencegahan dan intervensi spesifik pada sasaran premir dalam 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak saat mulai dilahirkan.

“Pencegahan stunting bisa diintervensi dalam 1.000 hari kehidupan pertamanya, yaitu selagi dalam kandungan ibu kandungnya hingga si anak tersebut usia dua tahun melalui asupan makanan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Dodo Suhendar, di Bandung, Jumat.

Ia mengatakan dengan adanya program tersebut maka saat ditemukan anak menderita stunting, petugas kesehatan harus melakukan penilaian dengan ukuran tinggi badan.

“Kalau pada usia dua tahun tersebut anak tersebut dinyatakan stunting kemungkinan kecil bisa diintervensi dan kemungkinan besar bisa menetap stuntingnya. Tapi meskipun pendek gizinya nanti bisa bagus, dan sehat,” kata dia.

Pada tahun 2017, angka stunting di Jabar mencapai 29,2 persen atau mengalami kenaikan dari 25,1 persen pada 2016 sedangkan tingkat prevalensi stunting di Jabar yang paling tinggi dialamibdi Garut dengan angka 43,2 persen.

“Kasus stunting di Jawa Barat masih di bawah nasional, Adapun tingkat prevalensi stunting di Jabar yang paling tinggi dialami di Garut dengan angka 43,2 persen,” kata Dodo Suhendar.

Menurut dia, Dinkes Jawa Barat selama ini telah melakukan pemantauan status gizi (PSG) di 14 kabupaten dengan tingkat prevalensi stunting cukup tinggi di antaranya di Kabupaten Garut, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Kabupaten Bandung.

Kemudian di Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Subang, Karawang, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Majalengka.

“Insha Allah, akhir pekan ini saya dan Pak Gubernur (Jawa Barat) akan mendampingi Pak Presiden terkait kunjungan kerjanya di Kabupaten Sukabumi,” kata dia.

Dia mengatakan kasus stunting ini latar belakangnya hampir sama dengan gizi buruk yaitu ditentukan dengan asupan gizi dan lingkungan tempat tinggal ibu ketika kehamilan.

“Sehingga, apakah si ibu-nya anemia, hingga bayi dengan berat badan lahir rendah,” kata Dodo.

Lebih lanjut ia mengatakan faktor lainnya penyebab stunting adalah ketidakmampuan orang tua dalam masalah materi, pendidikan sehingga menyebabkan pola asuh yang salah serta daya dukung lingkungan yang kurang memadai seperti lingkungan yang mempengaruhi anak menjadi sering sakit-sakitan karena airnya tidak bersih, udara kotor.

“Jadi stunting ini menyebabkan kondisi anak lebih pendek dari pertumbuhan normal biasanya. Memang balita tersebut masih bisa berkegiatan cuma secara kualitas secara sumber daya manusia bakal kalah bersaing karena fisik berbeda dan rentan kena penyakit,” kata dia.

Dinas Kesehatan Jawa Barat, lanjut Dodo, menargetkan dapat menurunkan angka stunting di Provinsi Jawa Barat menjadi 25 hingga 20 persen pada tahun ini.

Selain itu pada tahun 2019 angka prevalensi stunting di Jawa Barat bisa di bawah 20 persen supaya tidak menjadi masalah yang serius.(ant)