TANGSEL (Bisnis Jakarta) – Sepanjang tahun 2018, sebanyak 59 balita di kota Tangerang Selatan (Tangsel) terdiagnosa menderita gizi buruk. Dari ke 59 balita tersebut 26 diantaranya dinyatakan sembuh sedangkan 33 sisanya masih dalam proses penanganan. “Adapun rinciannya 10 akibat penyakit penyerta dan 23 lainnya akibat salah pola asuh,” ungkap anggota komisi II DPRD Kota Tangsel yang membidangi kesehatan, Ratu Chumairoh Noor.

Lebih lanjut Ratu Chumairoh mengatakan, kasus gizi buruk di Tangsel harus ditangani secara komprehensif. Dan harus melibatkan semua stake holder, instansi dan lintas sektoral dengan kontribusi sesuai perannya masing masing. “Kerjasama harus dibutuhkan agar permasalahan gizi buruk menjadi tuntas dan tidak muncul kembali,” imbuhnya.

Ratu Chumairoh menambahkan, faktor pendidikan yang tak memadai turut mempengaruhi kesadaran dalam menjalankan pola hidup sehat. Hal ini berkorelasi dengan faktor lainnya terutama faktor ekonomi keluarga.

Untuk itu menurut Ratu penanganan gizi buruk juga harus melibatkan Dinas sosial, dinas pendidikan dan badan pemberdayaan perempuan. “Jika penanganannya secara terpadu diharapkan bisa maksimal memutus mata rantai penyebab kasus gizi buruk,” pungkasnya. (nov)