Gerakan Serang Jokowi, Luhut Minta Rakyat Jangan Mau Dibohongi

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan angkat suara soal Gerakan #2019GantiPresiden, serangan kepada pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan upaya menyudutkan pribadi Jokowi.

Menurutnya, sejumlah isu itu dibangun oleh segelintir orang untuk menyudutkan Jokowi pada akhirnya akan sia-sia karena rakyatlah yang akan menentukan. “Ya orang mau bilang ganti, silakan saja, hak dia. Tapi, kita melihat akhirnya rakyat yang memutuskan. Jadi, saya pikir, dari indikasi semua tadi apa yang kita lihat peluang itu hanya dimiliki oleh segelintir orang saja saja,” kata Luhu Pandjaitan di Kantor DPP PDI Perjuangan, Lenyenf Agung, Jakarta, Minggu (8/4).

Bagi Luhut, pemerintahan Presiden Jokowi sebenarnya meraih banyak kesuksesan di berbagai hal. Kendati demikian, ia tidak memungkiri masih ada yang kurang, karena sampai kapanpun pasti ada saja kekurangan dari seorang presidan. “Kami juga tanya sana-sini, success story dari Presiden Jokowi itu kan sangat banyak. Sangat kuat. Bahwa masih ada yang kurang, ya tidak kita juga pungkiri ya. Tetap saja sampai kapanpun juga pasti ada yang kurang,” kata Luhut.

Dari sisi utang, misalnya, Luhut menjelaskan serangan is utang negara yang diembuskan bahwa utang di era Presiden Jokowi paling besar mencapao 4.000 triliun. Hal itu karena memang jumlah utang itu merupakan akumulasi dari jumlah utang yang ada.

Oleh karena itu, ia meminta jangan menilai utang dari besaran jumlah nilainya, karena bila dibandinh dengan kemampuan negara jumlahnya masih dalam batas wajar dan terkendali. Jokowi juga diterpa isu PKI dan diragukan ke-Islam-manya. Tak heran, Luhut mengatakan memahami Jokowi jengkel. Kejengkelan yabg diubgkap Jokowi itu dinilainya wajar karena fitnah yang dialamatkan ke Jokowi tak masuk akal.

“Saya setuju kalau Presiden agak jengkel. Sah-sah saja, menurut saya karena beliau juga manusia. Yang satu tuduh soal PKI, kan tidak beralasan sama sekali. Keislamannya pun, itu Ketua Komisi DPR RI kan temannya beliau di solo, dari kecil, sering melakukan salat Jumat bersama-sama,” kata Luhut menyindir pihak yang menyerang Jokowi namun tanpa menyebut nama bersangkutan.

Oleh karena itu, ia memastikan isu-isu yang bertujuan menyerang Jokowi tidak benar. Ia meminta agar masyarakat jangan mau dibohongi dengan informasi yang tidak benar. “Soal PKI aneh lagi, beliau baru umur 3 tahun saat terjadi peristiwa itu (pemberontakan PKI Tahun 1965). Jadi saya pikir rakyat, nah kalau ini saya boleh ngomong rakyat jangan dibohongi dengan informasi-informasi yang tidak benar itu, saya berani ngomong itu,” kata Luhut.

Malah, menurutnya masyarakat seharusnya beruntung memiliki Presiden Jokowi yang bervisi ke depan. Hanya saja, ia meminta waktu untuk memperbaiki hal-hal yang saat ini dirasa belum baik. “Bahwa semua belum jadi bagus ya memang baru 3,5 tahun. Kita butuh waktu lagi beberapa waktu untuk memperbaiki ini dan itu sekarang berjalan,” tandasnya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan Hassto Kristiyanto menilai kejengkelan Presiden Jokowi yang diungkapkan dengan pernyataan kerasnya tidak ada maksud untuk melakukan serangan balik kepada Gerakan #2019GantiPresiden.

Menuru Hasto, Jokowi yang mengaku jengkel Dengan Gerakan #2019GantiPresiden seperti kaus T-Shirt yang banyak beredar dan diperjualbelikan sebagai hal yang wajar. “Itu bukan serangan balik. Pak Jokowi melakukan klarifikasi bahwa menjadi pemimpin itu harus membangun optimisme,” kata Hasto.

Hasto pun menilai, Jokowi memang harus meluruskan adanya isu yang dianggap menyerang‎ kepala negara itu lewat kaus bertuliskan #2019GantiPresiden. Mengingat, Jokowi akan kembali maju di kontestasi Pilpres 2019.

“Karena menjadi pemimpin itu harus menggelorakan harkat dan martabat bangsa untuk menyatukan semangat gotong royong, seberapapun berat masalahnya harus diatasi,” imbuhnya.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo menanggapi polemik beredarnya kaos bertuliskan #2019GantiPresiden. Jokowi menyatakan kaos tidak bisa menggantikan dirinya sebagai Presiden. sebab, yang bisa mengganti Presiden hanya rakyatnya. “Sekarang isunya ganti lagi, isu kaus.#GantiPresiden2019 pakai kaus. Masak kaus bisa ganti Presiden?, yang bisa ganti Presiden itu rakyat,” kata Jokowi saat menghadiri acara konvensi nasional galang kemajuan 2018, di Ballroom Puri Begawan, Bogor, Sabtu (7/4/2018). (har)