Takengon, Aceh, ( Bisnis Jakarta ) – Kontrak ekspor kopi Arabika Gayo diperbaharui menyusul harga komoditas tersebut di tingkat petani di Kabupaten Aceh tengah dan bener Meriah terus melambung dan tertinggi dalam sepanjang sejarah.

Armiyadi, eksportir di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, kepada wartawan, Selasa, menuturkan harga kopi Gayo green bean di pasar dunia saat ini berada di kisaran 7,5 dolar Amerika Serikat per kilogram atau setara Rp102.000/Kg.

“Harga tertinggi sekarang di kontrak itu 7,2 dolar sampai 7,5 dolar/Kg. Kalau 7,5 dolar dikali dengan kurs rupiah sekarang Rp13.500 adalah Rp 102.000/Kg dan harga ini belum pernah ada sebelumnya,” tutur Armiyadi.

Menurut dia harga tersebut juga masih untuk katagori kopi ekspor yang dari segi kualitasnya masih berbeda dengan katagori biji kopi pilihan atau kopi spesialty.

“Katagori kopi ekspor yang rata-rata, bukan kopi spesialty. Kalau kopi spesialty lebih mahal lagi. Ini kopi rata-rata yang dijual per kontainer, dan harga itu adalah harga tertinggi saat ini dari harga yang pernah ada. Itu harga kontrak terbaru,” kata Armiyadi.

Dia menjelaskan perbandingan harga saat ini dengan harga tertinggi sebelumnya untuk pasar ekspor kopi Gayo berada di angka 6,5 dolar atau setara Rp70.000/Kg.

“Ini kan ada dua komponen, pertama nilai tukar rupiah yang lemah, yang kedua memang harga kopinya tinggi. Jadi kedua faktor itu mendukung. Kalau biasanya paling tinggi itu rata-rata Rp70.000/Kg, pernah sekali terjadi paling tinggi Rp80.000/Kg,” sebut Armiyadi.

Lanjut dia, kontrak terbaru Kopi Gayo di pasar ekspor dunia saat ini terjadi akibat adanya penyesuaian yang harus dilakukan antara para buyer dan eksportir di daerah, karena kontrak yang terjalin sebelumnya tak lagi dapat dipenuhi seiring penurunan produksi kopi Gayo secara menyeluruh.

Menurunnya produktifitas kopi Gayo membuat pasokannya di pasaran terus berkurang hingga memicu harga terus melambung tinggi, sedangkan perburuan kopi di kalangan para eksportir terus terjadi demi untuk memenuhi kuota ekspor.

“Kontrak terbaru itu terus datang karena kontrak yang lama tidak bisa dipenuhi. Banyak sekarang kontrak sakit sebutannya, itu adalah kontrak yang dilakukan lima atau empat bulan sebelum masa panen ini. Contohnya di bulan November, itu para eksportir kontrak dengan 5,5 dolar/Kg, terus kopinya sedikit, berebut di lapangan, harga naik,” katanya.

“Dengan harga naik akhirnya kontrak-kontrak ini didelay, ditunda untuk dikirim, karena memang tidak ada barangnya. Akhirnya para buyer memberikan kontrak baru,” tutur Armiyadi.

Saat ini diketahui produktifitas kopi Gayo di dua kabupaten yakni Aceh Tengah dan Bener Meriah memang terus menurun akibat adanya perubahan iklim dan faktor cuaca yang semakin tidak menentu.(ant)