Belum Capreskan Prabowo, Gerindra Masih Bahas Strategi dan Hitungan Politik

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Hingga saat ini, deklarasi pencapresan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto masih menjadi teka-teki. Mantan Cawapres di Pilpres 2009 dan Capres di Pilpres 2014 itu belum juga menyandang gelar Calon Presiden untuk Pilpres 2019.

Di antara elite Partai Gerindra masih memberi keterangan berbeda-beda soal kepastian deklarasi dan siapa capres yang akan diusung. Ketua DPP Gerindra Desmond J Mahesa mengatakan Prabowo sedang menimbang aspirasi masyarakat, termasuk kemungkinan menjadi king maker dengan mendorong calon lain sebagai capres.

“Tidak ada kegalauan itu bagi Pak Prabowo. Cuma kalau kita bicara bertarung atau tidak, ini kita harus melihat apakah Pak Prabowo maju atau memposisikan sebagai king maker,” kata Desmond J,. Mahesa di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (10/4).

Menurut Wakil Ketua Komisi III DPR ini, ada alasan membuka kemungkinan Prabowo menjadi king maker. “Ini bicara tentang strategi politik dan hitung-hitungan politik. Kita mau menang, prinsipnya bahwa kita berharap kali ini bukan sesuatu kekalahan, apalagi sekarang kaus di mana-mana, ganti presiden,” ujarnya.

Saat ditanya siapa yang akan didorong sebagai capres, apabila benar Prabowo Subianto memposisikan sebagai king maker. “Ya tokoh lain tergantung yang berkembang. Muncul hari ini Pak Gatot (Panglima TNI Jenderal Purn. Gatot Nurmantyo), ada Anies (Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan),” terangnya.

Namun, Desmond mengakui hingga saat ini seluruh kader Gerindra masih bulat untuk mendukung Prabowo maju di Pilpres nanti dengan tujuan untuk mengalahkan Jokowi. “Itu kesepakatan kami pimpinan daerah (Prabowo maju sebagai capres). Maju sendiri atau orang lain, tujuannya mengalahkan Jokowi,” terangnya.

Desmond juga menjawab tentang nada miring terkait dukungan logistik termasuk pendanaan apabila Prabowo manju sebagai capres. Menurutnya tidak masalah dengan logistik untuk menghadapi Pilpres 2019. “Bicara logistik sebenarnya tidak ada yang diragukan lagi,” kata Desmond.

Mengenai dinamika politik di partainya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra membantah ada perbedaan pendapat di internal partainya terkait sebagian kader yang menginginkan Prabowo Subianto sebagai capres, dan sebagian kader lagi menginginkan agar Prabowo cukup menjadi king maker dengan mendorong tokoh lain sebagai capres untuk menghadapi capres petahana Joko Widodo. “Nggak ada, saya ketemu beliau tiga hari yang lalu tidak ada masalah, saya kira itu pendapat pribadi dan tidak mewakili partai,” kata Fadli.

Fadli menegaskan, apa yang disampaikan Desmond tersebut sebagai pendapat pribadi yang tidak mewakili Partai Gerindra. Menurutnya, Prabowo tidak pernah bicara soal king maker. “Saya kira pendapat saudara Desmond pendapat pribadi. tidak ada Pak Prabowo mengatakan sebagai king maker, saya langsung berbicara,” tegas Wakil Ketua DPR itu.

Rencananya pada Rabu (11 April 2018) ini, Partai Gerindra akan menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dengan melibatkan Dewan Penasehat, Anggota Dewan Pakar serta Pengurus DPP Partai GERINDRA di Padepokan Garudayaksa Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Namun, belakangan Rakornas dinyatakan berlangsung dan tidak menjadi konsumsi publik untukn diberitakan.

Menanggapi, dinamika di internal Partai Gerindra, Sekjen DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengatakan pihaknya tidak ikut campur terkait dinamika di internal Partai Gerindra. “Kami tidak dalam kapasitas untuk menilainya,” kata Hasto.

Ketika didesak, lebih mudah mana bagi Jokowi menghadapi Prabawo atau bukan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019, Hasto mengatakan memilih presiden bukanlah soal mudah atau tidaknya. Tetapi Pilpres bicara gagasan terbaik untuk bangsa dan negara.

Yaitu tanggungjawab pemimpin untuk memberi skenario agar bangsa Indonesia yang besar bisa dihormati bangsa lain. “Seperti menjadi inisiator dalam memimpin gerakan non blok melalui Konferensi Asia Afrika seperti yang pernah digagas oleh Bung Karno,” sebutnya. (har)